Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Rabu 25 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Rabu 25 Februari 2026 merupakan HARI RABU PEKAN I PRAPASKAH, Santa Walburga, Abbas, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Rabu 25 Februari 2026:
Bacaan Pertama Yunus 3:1-10
“Penduduk Niniwe berbalik dari tingkah lakunya yang jahat.”
Tuhan berfirman kepada Yunus, “Bangunlah dan berangkatlah ke Niniwe, kota besar itu. Sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” Maka bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.
Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru, “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”
Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
Setelah kabar sampai pada raja kota Niniwe, turunlah raja dari singgasananya; ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di atas abu.
Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian, “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.
Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah; dan haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, dan dari kekerasan yang dilakukannya.
Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal, serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”
Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah atas malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka; dan Ia pun tidak jadi melakukannya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 51:3-4.12-13.18-19
Ref. Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; dan kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahan kepada-Mu ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk-redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
Bait Pengantar Injil Yoel 2:12-13
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Sekarang juga, demikian firman Allah, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, sebab Aku ini pengasih dan penyayang.
Bacaan Injil Lukas 11:29-32
“Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.”
Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.
Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini.
Pada waktu penghakiman ratu dari Selatan akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan akan menghukum mereka: Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Salomo!
Pada waktu penghakiman orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya.
Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Yunus!”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Rabu 25 Februari 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pada hari Rabu Pekan I Prapaskah ini, Sabda Tuhan mengajak kita masuk ke dalam satu kata yang sederhana tetapi sangat menentukan hidup: pertobatan. Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Yunus, kita mendengar bagaimana Kitab Yunus menceritakan perutusan seorang nabi yang awalnya enggan, namun akhirnya taat. Ia pergi ke Niniwe, kota besar yang terkenal karena kejahatannya. Pesan yang dibawanya singkat dan tegas: empat puluh hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan.
Yang mengagumkan, saudara-saudari, bukan hanya pewartaan Yunus, tetapi tanggapan orang-orang Niniwe. Mereka percaya. Mereka tidak berdebat, tidak menuntut bukti, tidak meminta tanda tambahan. Raja turun dari takhtanya, rakyat mengenakan kain kabung, semuanya berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Mereka sadar: ancaman kehancuran itu bukan sekadar hukuman, tetapi kesempatan untuk berubah.
Dalam Injil menurut Injil Lukas, Yesus justru menghadapi generasi yang berbeda. Mereka menuntut tanda. Mereka ingin bukti yang spektakuler. Namun Yesus berkata bahwa tidak akan ada tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang Niniwe, demikian pula Yesus sendiri menjadi tanda bagi dunia.
Saudara-saudari, sering kali kita tidak jauh berbeda dari orang-orang yang menuntut tanda itu. Kita berkata, “Tuhan, kalau Engkau sungguh ada, tunjukkanlah ini. Beri aku mukjizat. Selesaikan masalahku.” Kita ingin kepastian instan. Kita ingin jawaban cepat. Kita ingin Tuhan bekerja sesuai dengan cara dan waktu kita.
Namun tanda terbesar sudah diberikan: Yesus sendiri. Kehadiran-Nya, sabda-Nya, kasih-Nya, salib-Nya. Masalahnya bukan kurangnya tanda, melainkan kurangnya hati yang mau mendengar.
Orang Niniwe bertobat hanya karena mendengar seorang nabi manusia biasa. Kita mendengar Sabda yang hidup setiap hari. Kita memiliki Injil di tangan kita. Kita merayakan Ekaristi. Tetapi apakah hati kita sungguh berubah?
Pertobatan bukan sekadar rasa bersalah. Pertobatan adalah keberanian untuk mengakui bahwa ada pola hidup yang harus diubah. Cara kita berbicara di rumah. Cara kita memperlakukan pasangan, orang tua, teman. Cara kita menggunakan media sosial. Cara kita bekerja, belajar, mengambil keputusan. Kadang kita tahu itu tidak benar, tetapi kita menunda berubah karena merasa “belum parah” atau “semua orang juga begitu.”
Prapaskah mengingatkan bahwa Tuhan tidak mencari kesempurnaan instan. Ia mencari hati yang mau kembali. Ketika Allah melihat orang Niniwe berbalik dari kejahatannya, Ia tidak jadi menjatuhkan hukuman. Itu menunjukkan bahwa hati Allah selalu lebih besar daripada murka-Nya. Ia lebih ingin menyelamatkan daripada menghukum.
Yesus berkata, “Yang ada di sini lebih daripada Yunus.” Artinya, di dalam Kristus, kita tidak hanya mendapat peringatan, tetapi juga rahmat. Kita tidak hanya diberi tahu untuk berubah, tetapi juga diberi kekuatan untuk berubah. Kita tidak sendirian dalam perjuangan melawan kelemahan kita.
Saudara-saudari, mungkin hari-hari ini kita merasa lelah, kecewa, atau terjebak dalam kebiasaan yang sama. Sabda hari ini berkata: masih ada waktu. Empat puluh hari bukan ancaman, tetapi kesempatan. Tuhan memberi ruang bagi kita untuk kembali, untuk memperbaiki relasi yang retak, untuk memulai doa lagi, untuk meminta maaf, untuk mengampuni.
Jangan menunggu tanda yang lebih besar. Jangan menunggu keadaan sempurna. Tanda itu sudah ada: Yesus yang hadir, yang berbicara melalui Sabda-Nya, yang mengetuk hati kita dengan lembut.
Semoga kita tidak menjadi generasi yang keras hati, tetapi menjadi pribadi-pribadi yang peka, yang berani berkata, “Tuhan, ubahlah aku.” Dan ketika kita melangkah kecil menuju-Nya, percayalah, Ia sudah berlari lebih dahulu menyambut kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, lembutkan hati kami yang sering keras dan penuh alasan. Beri kami keberanian untuk bertobat sungguh-sungguh dalam kehidupan nyata setiap hari. Mampukan kami memperbaiki kesalahan, mengampuni, dan hidup lebih jujur serta penuh kasih. Sertai langkah kami agar tidak menunda perubahan yang Kaukehendaki. Amin.
