Pemerintah lagi ngegas wacana baru nih: kerja dari mana aja alias Work From Anywhere (WFA) plus sekolah daring buat bantu ngurangin konsumsi BBM. Kedengarannya simpel—tinggal di rumah, gak usah keluar, bensin aman. Tapi, emang segampang itu?
Jadi gini, situasinya lagi gak baik di level global. Konflik antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel bikin jalur distribusi minyak dunia ke-distract. Iran bahkan nutup Selat Hormuz—jalur penting yang jadi “tol laut” buat sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Efeknya? Harga energi langsung naik. Bahkan gas di Eropa sempat melonjak sampai 35% di minggu kedua Maret 2026. Nah, Indonesia ikut kena imbasnya. Makanya pemerintah buru-buru cari cara biar konsumsi BBM dalam negeri bisa ditekan.
🏠 Solusi Kilat: 4 Hari Kerja + WFA
Pemerintah punya ide: kurangi aktivitas transportasi dengan sistem kerja fleksibel. Jadi, rencananya ada skema 4 hari kerja di kantor, sisanya bisa WFH atau WFA.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang:
“Ada hitungan kasar sekali, bukan saya yang hitung. Kasar lah, saya lupa berapa, tapi sekitar seperlimanya, 20 persen (dari total konsumsi BBM),”
Artinya, kalau satu hari aja orang gak commuting, konsumsi BBM nasional bisa turun sampai 20%. Lumayan banget.
Dia juga sempet bercanda:
“Saya pikir kalau Jumat, Jumat kan ditambah 3 hari itu lumayan tuh untuk aktivitas di rumah dan mungkin turisme juga akan mendorong sedikit,”
Alias… kalau kebanyakan WFH, takutnya malah jadi liburan 😂
🧠 Belajar Online Ikut Masuk Paket
Gak cuma kerja, sekolah juga kena imbas. Sistem pembelajaran daring (PJJ) bakal didorong lagi. Tujuannya sama: ngurangin mobilitas harian—terutama di kota besar yang macetnya udah kayak default setting.
Menurut ekonom M Rizal Taufikurahman:
“Kebijakan WFA dan pembelajaran daring sebagai upaya penghematan BBM pada prinsipnya cukup rasional dalam jangka pendek, karena dapat langsung menekan mobilitas harian dan konsumsi energi transportasi, terutama di wilayah perkotaan,”
Jadi logikanya jelas: makin sedikit orang di jalan → makin sedikit bensin kebakar.
🚗 Dampak Positifnya Apa Aja?
Kalau dijalanin bener, efeknya bisa lumayan luas:
- Macet berkurang 🚦
- Ongkos transportasi rumah tangga turun 💸
- Polusi udara ikut menurun 🌫️
- Tekanan impor energi jadi lebih ringan
Rizal juga nambahin:
“Dari sisi makro, ini juga membantu meredam tekanan impor energi dan subsidi dalam kondisi harga minyak global yang tinggi,”
⚠️ Tapi… Gak Semua Indah Kayak di Teori
Ekonom Yusuf Rendy Manilet ngingetin kalau ini bukan solusi sakti.
“Dalam jangka pendek, kebijakan ini efektif mengurangi perjalanan harian, kemacetan, dan pemborosan energi di jalan,”
Tapi ada catatan penting:
- Gak semua sektor bisa WFA
Pekerjaan kayak pabrik, logistik, atau layanan langsung ya tetap harus offline. - Kesenjangan digital makin kelihatan
Gak semua siswa punya akses internet bagus buat belajar online. - Energi pindah, bukan hilang
Listrik di rumah jadi naik karena semua aktivitas pindah ke sana.
“Selain itu, ada efek pergeseran konsumsi energi karena aktivitas di rumah meningkat dan penggunaan listrik naik, sehingga penghematan dari sektor transportasi tidak sepenuhnya hilang, tetapi juga tidak seefektif yang dibayangkan,”
🔧 Harus Didukung Kebijakan Lain
Biar gak setengah-setengah, WFA dan belajar daring perlu “teman” kebijakan lain:
- Pembatasan kendaraan (ganjil-genap)
- Transportasi umum diperkuat
- Rapat virtual diperbanyak
- Perjalanan dinas ASN dibatasi
Yusuf bilang:
“Mendorong percepatan digitalisasi seperti rapat virtual, kerja fleksibel, dan layanan berbasis online yang bisa menjadi pijakan perubahan pola aktivitas ke arah yang lebih efisien,”
🔋 Solusi Jangka Panjang: Bukan Hemat, Tapi Ganti Energi
Kalau mau bener-bener aman dari krisis kayak gini, jawabannya bukan sekadar hemat—tapi beralih.
“Untuk benar-benar mengurangi kerentanan terhadap krisis energi, pemerintah perlu mendorong transisi energi sebagai solusi jangka panjang,”
Maksudnya?
- Pakai energi terbarukan 🌞
- Dorong kendaraan listrik 🚗⚡
- Kurangi ketergantungan BBM
Bahkan Bhima Yudhistira kasih contoh:
“Spanyol tahun 2022 memberlakukan subsidi gratis untuk pengguna rutin transportasi publik. Tujuannya mengurangi efek krisis energi karena konflik Ukraina,”
Dan dia nyaranin:
“Pemerintah bisa tiru Spanyol. Ada insentif masyarakat pakai transportasi publik, tidak beli kendaraan BBM,”
WFA dan belajar daring itu ibarat “plester”—bisa bantu sementara, tapi bukan obat utama. Efektif buat jangka pendek, apalagi di kota besar. Tapi kalau mau tahan banting ke depan, Indonesia tetap harus serius di transisi energi.
Jadi, ini solusi cerdas atau ilusi? Jawabannya: tergantung eksekusinya. Kalau cuma setengah-setengah, ya bakal jadi gimmick doang. Tapi kalau dibarengin kebijakan lain, bisa jadi langkah awal menuju sistem energi yang lebih aman dan modern 🚀
