Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 26 April 2026.
Kalender Liturgi hari Minggu 26 April 2026 adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Hari Minggu Panggilan dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 26 April 2026:
Bacaan Pertama: Kis. 2:14a,36-41
Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.
Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”
Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Bacaan Kedua: 1Ptr. 2:20b-25
Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Bacaan Injil: Yohanes 10:1-10
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”
Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Minggu 26 April 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
hari Minggu ini kita mendengar Sabda Tuhan yang begitu kuat, namun sekaligus sangat dekat dengan kehidupan kita. Dalam Bacaan Pertama, kita melihat bagaimana Rasul Petrus berdiri dengan berani dan berbicara kepada banyak orang. Kata-katanya sederhana, tetapi menyentuh hati: “Bertobatlah.” Dan yang menarik, orang-orang yang mendengarnya tidak merasa dihakimi, tetapi justru “terharu.” Hati mereka terbuka. Mereka tidak menyangkal, tetapi bertanya dengan jujur, “Apa yang harus kami perbuat?”
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat manusiawi. Dalam hidup, sering kali kita tahu bahwa ada yang tidak beres dalam diri kita—entah itu sikap, kebiasaan, relasi, atau pilihan hidup. Tetapi tidak semua orang berani mengakui dan bertanya seperti mereka. Banyak dari kita justru sibuk mencari pembenaran. Namun Sabda hari ini mengajak kita untuk jujur terhadap diri sendiri. Pertobatan bukan soal merasa bersalah terus-menerus, tetapi keberanian untuk memulai kembali.
Lalu dalam Bacaan Kedua, kita diajak melihat teladan Yesus Kristus. Ia tidak membalas ketika disakiti, tidak melawan ketika dihina. Ini bukan sikap lemah, tetapi kekuatan yang luar biasa. Dalam kehidupan sekarang, dunia sering mengajarkan: kalau disakiti, balas. Kalau direndahkan, lawan. Tetapi Kristus menunjukkan jalan yang berbeda—jalan kasih, jalan pengampunan, jalan keheningan yang penuh makna.
Dan kalau kita jujur, ini bukan hal yang mudah. Dalam keluarga, dalam pertemanan, di tempat kerja atau sekolah, kita sering terluka oleh kata-kata orang lain. Luka itu nyata. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak terjebak dalam lingkaran kebencian. Kita dipanggil untuk sembuh, bukan membalas. Sebab seperti yang dikatakan, “oleh bilur-bilur-Nya kita telah sembuh.” Artinya, luka Kristus justru menjadi sumber pemulihan bagi kita.
Kemudian kita sampai pada Injil, di mana Yesus berkata: “Akulah pintu.” Ini gambaran yang sangat dalam. Ia tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi Ia sendiri adalah jalan itu. Dalam dunia yang penuh dengan banyak “suara”—media sosial, opini orang, tekanan lingkungan—kita sering bingung mana yang harus diikuti. Semua terdengar meyakinkan, semua seolah benar.
Namun Yesus berkata bahwa domba mengenal suara gembalanya. Pertanyaannya, apakah kita masih mengenal suara Tuhan dalam hidup kita? Atau jangan-jangan kita sudah lebih akrab dengan suara ketakutan, suara ambisi, atau suara dunia yang menuntut tanpa henti?
Yesus tidak memaksa. Ia memanggil. Ia berjalan di depan, bukan mendorong dari belakang. Ini sangat indah. Artinya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita menghadapi hidup sendirian. Ia sudah lebih dulu berjalan dalam penderitaan, dalam kesulitan, bahkan dalam kematian. Dan Ia membuka jalan menuju kehidupan yang “berkelimpahan”—bukan sekadar cukup, tetapi penuh makna.
Saudara-saudari, hidup berkelimpahan yang dimaksud bukan berarti tanpa masalah. Tetapi hidup yang tahu arah. Hidup yang tahu kepada siapa kita percaya. Hidup yang tetap memiliki damai, bahkan ketika keadaan tidak mudah.
Hari Minggu Panggilan ini juga mengingatkan kita bahwa setiap orang dipanggil. Bukan hanya menjadi imam atau biarawan-biarawati, tetapi dipanggil untuk hidup sebagai pribadi yang mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti-Nya dalam keseharian. Dalam keputusan kecil, dalam cara kita memperlakukan orang lain, dalam kesetiaan kita melakukan hal yang benar.
Maka hari ini, mari kita bertanya dalam hati: suara mana yang selama ini saya ikuti? Apakah saya masih memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam hidup saya? Dan apakah saya berani melangkah masuk melalui “pintu” yang adalah Kristus, meskipun itu berarti harus berubah?
Semoga Sabda Tuhan hari ini tidak hanya kita dengar, tetapi sungguh kita hidupi—perlahan, sederhana, tetapi nyata dalam kehidupan kita setiap hari. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, tuntun kami mengenali suara-Mu di tengah hiruk hidup. Kuatkan kami untuk bertobat dan mengikuti jalan-Mu dengan setia. Sembuhkan luka hati kami agar mampu mengasihi tanpa syarat. Jadikan hidup kami penuh makna, damai, dan keberanian dalam menghadapi setiap tantangan hari ini dan seterusnya. Amin.
