Karang Hawu Sukabumi Dikaitkan dengan Jasa Santet dan Pelet Bertarif Jutaan, Ini Klarifikasi Resmi dari Pemerintah Desa

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Media sosial kembali dibuat heboh oleh sebuah video yang memperlihatkan suasana kawasan Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Yang bikin netizen langsung kepo bukan cuma pemandangan lautnya, tetapi narasi dalam video yang seolah-olah menawarkan jasa santet dan pelet dengan tarif sampai jutaan rupiah.

Dalam video tersebut terlihat sejumlah benda yang dikaitkan dengan ritual spiritual, seperti sesajen, kelapa muda, asap kemenyan, dan wadah dupa yang berada di atas tebing karang menghadap laut. Pemandangan itu kemudian dipadukan dengan tulisan berisi daftar layanan dan nominal biaya.

Beberapa tarif yang tercantum antara lain santet mati Rp3 juta, santet sakit Rp2 juta, santet gila Rp1 juta, serta layanan pelet puter giling dan ikat sukma yang masing-masing disebut bertarif Rp400 ribu.

Konten tersebut sontak bikin publik bertanya-tanya. Apakah benar ada praktik jasa santet berbayar di kawasan wisata yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi di Sukabumi itu?

Sejumlah warga memang menyebut lokasi dalam video terlihat mirip dengan kawasan Karang Hawu. Salah satunya Jaka, warga Cisolok. Ia mengatakan sudut pengambilan gambar mempunyai kemiripan dengan area tersebut karena arah pandangan kamera menuju laut dan tampak perbukitan Puncak Habibie.

Namun, kemiripan lokasi itu belum otomatis membuktikan bahwa jasa yang disebut dalam video benar-benar dijalankan di sana.

Kepala Desa Cisolok, Hendi Sunardi, langsung memberikan klarifikasi terkait kabar yang telanjur ramai tersebut. Ia membantah adanya praktik komersial jasa santet di kawasan Karang Hawu.

“Jelas nggak setuju, mana ada kayak begitu,” ujar Hendi.

Menurut Hendi, apabila memang ada pihak yang sengaja membuka praktik semacam itu dan memasang tarif, pemerintah desa akan mencari tahu siapa pelakunya. Ia juga menyebut praktik tersebut tidak sesuai dengan aktivitas yang selama ini dikenal di kawasan tersebut.

Hendi turut mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat sebuah foto atau video bisa saja diedit dan diberi tambahan tulisan tertentu sehingga menghasilkan narasi yang berbeda dari kondisi sebenarnya.

Karang Hawu sendiri, menurut penjelasan pemerintah desa, selama ini lebih dikenal sebagai kawasan wisata alam sekaligus lokasi yang berkaitan dengan kegiatan religi, termasuk syariat dan tawasul. Karena itu, narasi mengenai jasa santet berbayar disebut tidak menggambarkan aktivitas warga lokal di kawasan tersebut.

Soal keberadaan juru kunci, Hendi menjelaskan bahwa pihak desa sebelumnya memberikan surat tugas dengan tujuan menjaga ketertiban agar aktivitas di kawasan tersebut tidak berlangsung secara liar.

“Di sana mah murni wisata religi, syariat tawasul, bukan untuk hal-hal yang begitu,” tegasnya.

Dengan ramainya video tersebut, publik pun perlu lebih hati-hati sebelum langsung percaya terhadap narasi yang ditempelkan pada sebuah konten viral. Apalagi, sebuah visual yang memang berasal dari suatu lokasi belum tentu membuktikan seluruh informasi yang dituliskan di atasnya benar-benar terjadi di tempat tersebut.

Untuk saat ini, berdasarkan keterangan Kepala Desa Cisolok, kabar mengenai adanya jasa santet dan pelet berbayar di kawasan Karang Hawu dibantah sebagai hoaks. Klarifikasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa konten viral tetap perlu dicek konteks dan sumber informasinya sebelum ikut disebarkan lebih jauh.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

Terduga Pelaku Tendang Wanita di Senayan City Ditangkap, Polisi Periksa 4 Saksi

Jagat media sosial sempat dibuat heboh oleh rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang wanita tiba-tiba ditendang dari belakang saat berada...

More Articles Like This

Favorite Post