Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 22 Juni 2026.
Kalender Liturgi hari Senin 22 Juni 2026 adalah Perayaan St. Paulinus Nola, St. Yohanes Fisher, St. Thomas More, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 22 Juni 2026:
Bacaan I: 2 Raj 17:5-8.13-15a.18
Kemudian majulah raja Asyur menjelajah seluruh negeri itu. Ia menyerang Samaria dan mengepungnya tiga tahun lamanya.
Dalam tahun kesembilan zaman Hosea, raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur ke dalam pembuangan dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai.
Hal itu terjadi karena orang Israel telah berdosa kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah menuntun mereka dari tanah Mesir, dari kekuasaan Firaun, raja Mesir, dan karena mereka telah menyembah allah lain.
Mereka telah hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel, dan menurut ketetapan yang telah dibuat raja-raja Israel.
TUHAN telah memperingatkan kepada orang Israel dan kepada orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua tukang tilik: “Berbaliklah kamu dari jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi.”
Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, melainkan mereka menegarkan tengkuknya seperti nenek moyang mereka yang tidak percaya kepada TUHAN, Allah mereka.
Mereka menolak ketetapan-Nya dan perjanjian-Nya yang telah diadakan dengan nenek moyang mereka, juga peraturan-peraturan-Nya yang telah diperingatkan-Nya kepada mereka. Mereka mengikuti dewa kesia-siaan sehingga menjadi sia-sia, dan mengikuti bangsa-bangsa yang di sekeliling mereka, walaupun TUHAN telah memerintahkan kepada mereka: “Janganlah berbuat seperti mereka itu.”
Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3.4-5.12-13
Engkau telah membuat umat-Mu mengalami penderitaan yang berat; Engkau telah memberi kami minum anggur yang memusingkan.
Kepada mereka yang takut kepada-Mu telah Kauberikan panji-panji, tanda untuk berlindung terhadap panah.
Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai, berikanlah keselamatan dengan tangan kanan-Mu dan jawablah kami!
Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.
Bacaan Injil: Matius 7:1-5
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: ‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu,’ padahal ada balok di dalam matamu?
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 22 Juni 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Bacaan pertama hari ini menghadirkan sebuah kisah yang menyedihkan dalam sejarah bangsa Israel. Mereka adalah bangsa yang pernah mengalami kasih dan penyelamatan Tuhan secara nyata. Tuhan membebaskan mereka dari perbudakan, menyertai perjalanan mereka, dan berulang kali mengutus para nabi untuk mengingatkan mereka ketika mereka mulai menjauh. Namun, peringatan demi peringatan tidak mereka dengarkan. Hati mereka menjadi keras. Mereka lebih tertarik mengikuti cara hidup bangsa-bangsa di sekitar mereka daripada tetap setia kepada Tuhan. Akibatnya, mereka kehilangan arah, kehilangan identitas sebagai umat Allah, dan akhirnya mengalami pembuangan.
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Dalam banyak hal, kita pun dapat mengalami hal yang sama. Tidak sedikit orang yang sebenarnya mengenal Tuhan, berdoa, datang ke gereja, tetapi perlahan-lahan membiarkan nilai-nilai dunia menjadi pusat hidupnya. Kesibukan, ambisi, gengsi, keinginan untuk diterima lingkungan, atau pencarian kenyamanan sering kali tanpa sadar menggantikan tempat Tuhan di dalam hati. Kita tidak meninggalkan Tuhan secara tiba-tiba, melainkan sedikit demi sedikit. Sama seperti bangsa Israel, masalah terbesar bukanlah tidak pernah mendengar suara Tuhan, melainkan sudah mendengarnya berkali-kali tetapi memilih mengabaikannya.
Injil hari ini kemudian membawa kita masuk lebih dalam ke persoalan hati manusia. Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Sabda ini sering disalahartikan seolah-olah kita tidak boleh menilai mana yang benar dan mana yang salah. Padahal yang ditegur Yesus adalah kecenderungan manusia untuk begitu mudah melihat kesalahan orang lain sambil menutup mata terhadap kekurangannya sendiri.
Betapa relevan sabda ini dalam kehidupan sekarang. Kita hidup di zaman ketika menilai orang lain menjadi sangat mudah. Melalui media sosial, percakapan sehari-hari, bahkan dalam keluarga dan lingkungan kerja, kita sering terburu-buru memberikan penilaian. Kita melihat satu kesalahan kecil lalu merasa tahu seluruh isi hati seseorang. Kita melihat kegagalan orang lain lalu merasa diri lebih baik. Kita melihat kelemahan sesama lalu lupa bahwa kita pun memiliki kelemahan yang mungkin tidak kalah besar.
Yesus menggunakan gambaran yang sangat kuat: selumbar dan balok. Selumbar itu kecil, sedangkan balok sangat besar. Anehnya, manusia sering mampu melihat selumbar di mata orang lain tetapi tidak menyadari balok di matanya sendiri. Inilah akar dari banyak konflik, perpecahan, dan luka dalam relasi. Kita lebih sibuk menjadi hakim daripada menjadi saudara. Kita lebih cepat mengkritik daripada memahami. Kita lebih mudah menyalahkan daripada mendengarkan.
Sesungguhnya, orang yang sungguh mengenal dirinya akan menjadi pribadi yang lebih rendah hati. Semakin seseorang menyadari kelemahan dan perjuangannya sendiri, semakin ia mampu bersikap lembut terhadap orang lain. Ia tidak membenarkan kesalahan, tetapi juga tidak menghukum dengan kejam. Ia belajar melihat sesama dengan cara pandang Tuhan: penuh kebenaran sekaligus penuh belas kasih.
Menarik bahwa Yesus tidak berkata kita harus membiarkan selumbar tetap berada di mata saudara kita. Setelah balok dalam mata kita disingkirkan, kita justru dapat membantu sesama dengan lebih jelas. Artinya, koreksi dan nasihat tetap diperlukan, tetapi harus lahir dari hati yang rendah hati, bukan dari kesombongan. Orang yang pernah berjuang melawan kelemahannya sendiri akan lebih mampu menolong orang lain tanpa menghakimi.
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk melakukan pemeriksaan batin yang jujur. Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, marilah kita bertanya: apakah ada balok dalam diri saya yang belum saya akui? Apakah saya terlalu cepat menilai? Apakah saya lebih suka membicarakan kekurangan sesama daripada memperbaiki diri sendiri? Pertobatan sejati selalu dimulai dari keberanian melihat diri sendiri di hadapan Tuhan.
Ketika kita belajar rendah hati, kita akan semakin mampu membangun relasi yang sehat, keluarga yang damai, dan komunitas yang penuh kasih. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak hakim. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang mau memahami, mengampuni, dan menuntun sesamanya kepada Tuhan dengan kasih yang tulus.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarlah kami melihat diri sendiri dengan jujur dan rendah hati. Jauhkan kami dari kebiasaan menghakimi sesama. Berilah hati yang mampu memahami, mengampuni, dan menolong dengan kasih. Semoga dalam kesibukan hidup sehari-hari, kami tetap setia mendengarkan suara-Mu dan berjalan di jalan-Mu. Amin.