Saturday, January 3, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Senin 24 November 2025 Lukas 21:1-4 dan Renungan Harian Katolik, Hari Senin XXXIV

Must Read
5/5 - (2 votes)

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 24 November 2025.

Kalender Liturgi hari Senin 24 November 2025 merupakan Hari Senin XXXIV, Peringatan Wajib Santo Andreas Dung-Lac Martir, Santo Krisogonus Martir, Santa Flora dan Maria Martir, dengan Warna Liturgi Merah.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 24 November 2025:

Bacaan Pertama: Dan. 1:1-6,8-20

Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu.

Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya.

Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,

yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu,

yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.

Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.

Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya.

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel:

“Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.”

Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya:

“Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;

sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.”

Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari.

Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.

Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.

Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.

Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar.

Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja.

Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Dan. 3:52,53,54,55,56

“Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah namaMu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.

Terpujilah Engkau dalam BaitMu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya.

Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaanMu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya.

Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya dan bersemayam di atas kerub-kerub, Engkau patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.

Terpujilah Engkau di bentangan langit, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil: Alleluya

Ref. Alleluya, alleluya

Berjaga-jaga dan bersiap-siaplah, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga.

Bacaan Injil: Lukas 21:1-4

Yesus melihat seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti derma.

Di Bait Allah, tatkala mengangkat muka, Yesus melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.

Maka Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberikan persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan ia memberikan seluruh nafkahnya.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Senin 24 November 2025

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pada hari Senin dalam pekan XXXIV ini, kita diajak masuk ke dalam suasana batin Gereja yang mengenang para martir—Santo Andreas Dung-Lac, Santo Krisogonus, serta Santa Flora dan Maria. Mereka adalah saksi-saksi iman yang meletakkan seluruh hidupnya di hadapan Tuhan, bukan dengan kata-kata hebat, melainkan dengan kesetiaan yang teguh sampai akhir. Dan menariknya, liturgi hari ini mempertemukan kita dengan dua bacaan yang berbicara tentang sikap hati yang sama: kesetiaan dalam hal-hal kecil dan keberanian mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, bahkan ketika yang kita miliki terasa sedikit.

Dalam bacaan pertama, kita melihat Daniel dan ketiga sahabatnya sebagai kaum muda yang terpaksa hidup sebagai tawanan di negeri asing. Mereka berada di tengah godaan hidup nyaman dari istana raja Babel—makanan lezat, anggur terbaik, dan pendidikan yang menjanjikan masa depan cerah. Semua itu memiliki daya tarik luar biasa, terlebih bagi anak muda yang jauh dari rumah dan jauh dari tradisi iman leluhur mereka. Namun Daniel memutuskan satu hal: ia tidak ingin menajiskan dirinya. Ia tidak ingin kehilangan jati dirinya sebagai milik Allah. Keputusan itu tidak heroik secara lahiriah. Tidak ada yang dramatis. Hanya soal makanan. Hanya soal pilihan kecil sehari-hari. Tetapi justru dalam pilihan yang kecil itulah, Tuhan menemukan ruang untuk mencurahkan hikmat-Nya.

Daniel setia dalam hal kecil, dan Tuhan menumbuhkan hal-hal besar dalam dirinya. Ia menjadi sepuluh kali lebih bijaksana daripada para ahli di Babel. Bukan karena ia lebih pintar, tetapi karena ia setia menjaga hatinya tetap terpaut pada Tuhan. Bacaan pertama ini mengingatkan kita bahwa kesucian bukan lahir dari tindakan besar, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari—kejujuran di tengah tekanan, kesetiaan pada tugas, kemurnian hati dalam relasi, serta keberanian untuk menolak hal-hal yang mungkin tampak kecil tetapi berpotensi menggerus iman kita.

Lalu, dalam Injil, Yesus menatap seorang janda miskin. Bukan persembahannya yang menarik perhatian-Nya, tetapi hatinya. Dua peser itu hampir tidak berarti apa-apa dibandingkan persembahan orang-orang kaya. Namun dalam mata Yesus, ia memberi lebih banyak. Mengapa? Karena ia memberi bukan dari sisa, bukan dari kelebihan, tetapi dari kekurangannya—bahkan seluruh nafkahnya. Di hadapan Tuhan, nilai persembahan bukan terletak pada jumlahnya, tetapi pada keterlibatan hati kita.

Janda miskin itu mengajarkan kita tentang kepercayaan yang total kepada Allah. Ia tahu hidupnya rapuh. Ia tahu dirinya bergantung pada belas kasih Tuhan dari hari ke hari. Tapi justru dari kerapuhan itu ia berani memberi. Ia yakin bahwa memberi bukan membuatnya kehilangan, tetapi membuka dirinya pada penyelenggaraan Allah.

Ketika dua bacaan ini dipadukan, kita seperti dibimbing oleh Roh Kudus untuk memahami satu pesan yang sangat dalam: bahwa Tuhan melihat hati, bukan hasil; Ia melihat kesetiaan, bukan kemegahan. Dan justru melalui kesetiaan yang sederhana serta persembahan yang kecil tetapi tulus, Ia menumbuhkan berkat yang berlipat ganda.

Saudara-saudari, dalam dunia kita saat ini yang serba cepat, serba sibuk, dan serba menuntut, sering kali kita merasa tidak punya banyak untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kita merasa terlalu lelah, terlalu terbatas, terlalu sibuk, terlalu kecil. Tetapi hari ini Injil meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak menuntut hal besar. Ia hanya meminta hati yang mau setia dan mau memberi menurut kemampuan kita—bukan menurut ukuran dunia.

Mungkin kita tidak bisa memberi banyak waktu untuk berdoa, tetapi kita bisa memberi lima menit dengan hati yang sungguh.
Mungkin kita tidak bisa membantu semua orang, tetapi kita bisa menolong satu orang yang Tuhan hadirkan hari ini.
Mungkin kita tidak bisa melakukan karya besar, tetapi kita bisa melakukan yang kecil dengan kasih yang besar.

Ketika kita memberi dari kekurangan, dari keterbatasan, dari pergumulan, dari keletihan, dari luka—justru di situlah persembahan kita menjadi seperti dua peser janda miskin itu: kecil di mata manusia, tetapi sangat berharga di mata Tuhan.

Saudara-saudari terkasih, pada peringatan para martir hari ini, kita diajak untuk meneladani mereka bukan dengan mencari penderitaan, tetapi dengan menghidupi iman dalam kesederhanaan. Para martir memberi seluruh hidupnya. Janda miskin memberi seluruh nafkahnya. Daniel memberi kesetiaan hatinya. Kita pun dipanggil untuk memberi seluruh yang kita bisa hari ini, apa pun bentuknya.

Semoga kita berani mempersembahkan hati kita kepada Tuhan dengan apa adanya, dengan tulus, dengan rendah hati. Dan semoga dari hal-hal kecil yang kita persembahkan, Tuhan menumbuhkan kebijaksanaan, kedamaian, dan kekuatan bagi hidup kita, sebagaimana Ia melakukannya pada Daniel dan janda miskin itu.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajari aku setia dalam hal kecil dan memberi dengan tulus meski terbatas. Kuatkan aku untuk mempercayai penyelenggaraan-Mu setiap hari. Jadikan hatiku sederhana, rela melayani, dan selalu mencari kehendak-Mu dalam setiap keputusan hidupku. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Senin, 5 Januari 2026 dan Renungan Harian Katolik, Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post