Sunday, January 11, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Sabtu 17 Januari 2026 Markus 2:13-17 dan Renungan Harian Katolik

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 17 Januari 2026.

Kalender Liturgi hari Sabtu 17 Januari 2026 merupakan Perayaan Wajib St. Antonius, Warna Liturgi Putih.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 17 Januari 2026:

Bacaan Pertama: 1Sam. 9:1-4,17-19; 10:1a;

Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang dari suku Benyamin, seorang yang berada.

Orang ini mempunyai seorang anak laki-laki bernama Saul, seorang muda yang elok rupanya. Tidak ada seorang pun di antara orang Israel yang lebih elok dari padanya; dari bahu ke atas ia lebih tinggi daripada setiap orang sebangsanya.

Kish, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kish kepada Saul, anaknya, “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah, dan pergilah mencari keledai-keledai itu.”

Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada. Setelah itu mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.

Ketika Samuel melihat Saul, berfirmanlah TUHAN kepadanya, “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.”

Dalam pada itu Saul datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata, “Maaf, di manakah rumah pelihat itu?”

Samuel menjawab Saul, katanya, “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan aku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi, dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.”

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnya dia sambil berkata, “Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 21:2-3,4-5,6-7;

Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak. Sela.

Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.

Hidup dimintanya daripada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya.

Besar kemuliaannya karena kemenangan yang daripada-Mu; keagungan dan semarak telah Kaukaruniakan kepadanya.

Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.

Sebab raja percaya kepada TUHAN, dan karena kasih setia Yang Mahatinggi ia tidak goyang.

Bacaan Injil: Markus 2:13-17

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka.

Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai. Lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.

Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Sabtu 17 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan hari ini membawa kita masuk ke dalam cara Allah bekerja yang sering kali sederhana, diam-diam, bahkan tampak biasa, tetapi sesungguhnya sangat dalam dan penuh makna. Allah tidak selalu berbicara lewat hal-hal besar dan gemuruh. Justru sering kali Ia menyentuh hidup manusia lewat peristiwa kecil yang tidak kita rencanakan.

Dalam Bacaan Pertama, Saul tidak sedang mencari kekuasaan, tidak sedang memikirkan takhta, apalagi bercita-cita menjadi raja. Ia hanya sedang menjalani tugas sederhana dari ayahnya: mencari keledai yang hilang. Sebuah tugas rumah tangga yang tampaknya sepele, melelahkan, dan bahkan berakhir dengan kegagalan. Keledai itu tidak ditemukan. Namun justru di tengah pencarian yang tampak sia-sia itulah, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar. Saul bertemu Samuel, dan tanpa ia sadari, hidupnya diubah total. Dari seorang anak muda biasa, ia diurapi menjadi raja.

Di sinilah kita belajar bahwa Allah sering memakai jalan-jalan yang tidak kita mengerti. Banyak dari kita mungkin merasa hidup ini hanya berisi rutinitas: bekerja, belajar, mengurus keluarga, menyelesaikan masalah yang seolah tidak ada habisnya. Kita merasa seperti Saul yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, lelah, bingung, dan belum menemukan apa yang dicari. Tetapi firman hari ini menegaskan: di balik perjalanan yang tampak biasa itu, Allah sedang bekerja. Tidak ada langkah yang sia-sia ketika kita menjalaninya dengan setia.

Injil hari ini memperdalam pesan itu. Yesus memanggil Lewi, seorang pemungut cukai. Dalam pandangan masyarakat saat itu, Lewi adalah orang yang salah, berdosa, tidak layak, bahkan dijauhi. Tetapi Yesus tidak melihat Lewi dari label yang ditempelkan orang lain. Yesus melihat hatinya, melihat masa depannya, melihat kemungkinan pertobatan dan kehidupan baru. Hanya dengan satu kalimat sederhana, “Ikutlah Aku,” hidup Lewi berubah. Ia berdiri, meninggalkan pekerjaannya, dan mengikuti Yesus.

Yang menggetarkan adalah sikap Yesus yang mau duduk dan makan bersama orang-orang yang dianggap tidak pantas. Bagi Yesus, meja makan bukan tempat penghakiman, tetapi tempat pemulihan. Ia tidak datang untuk mengukuhkan orang-orang yang merasa dirinya sudah benar, melainkan untuk menjangkau mereka yang sadar bahwa dirinya rapuh, lemah, dan membutuhkan kasih Allah.

Sabda Yesus sangat jelas dan sangat relevan bagi hidup kita hari ini: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Ini bukan pembelaan diri, melainkan pernyataan kasih. Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk datang kepada-Nya. Justru dalam keadaan terluka, berdosa, dan penuh kekurangan, Ia datang mendekat.

Sering kali kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan karena masa lalu kita, kegagalan kita, atau dosa yang terus kita ulangi. Kita merasa malu, minder, dan menarik diri. Namun Injil hari ini menegaskan bahwa justru orang seperti itulah yang dicari Yesus. Ia tidak jijik pada luka kita. Ia adalah Tabib yang ingin menyembuhkan, bukan hakim yang ingin menghukum.

Renungan hari ini mengajak kita bercermin. Apakah kita mau seperti Lewi yang berani berdiri dan mengikuti Yesus, atau kita masih terikat pada rasa bersalah dan ketakutan? Apakah kita mau percaya bahwa Tuhan bisa bekerja melalui hidup kita yang sederhana dan tidak sempurna, seperti Ia bekerja dalam hidup Saul dan Lewi?

Sekaligus, Sabda Tuhan ini menantang kita dalam cara memandang sesama. Jangan-jangan tanpa sadar kita lebih mirip orang Farisi: mudah menilai, cepat menghakimi, dan merasa diri lebih baik. Padahal Yesus mengajak kita untuk memiliki hati yang terbuka, hati yang mau menerima, hati yang berani duduk bersama mereka yang terluka.

Saudara-saudari terkasih, membaca Injil dan merenungkannya setiap hari bukan sekadar kewajiban rohani, tetapi perjumpaan yang mengubah hidup. Di tengah kesibukan zaman ini, Injil memberi kita ketenangan, arah, dan keberanian untuk melangkah. Dari Sabda hari ini, kita diingatkan bahwa Allah memanggil kita apa adanya, di tempat kita berada sekarang, dengan segala keterbatasan kita.

Kiranya kita berani percaya bahwa Tuhan sedang bekerja dalam hidup kita, bahkan lewat hal-hal kecil yang sering kita anggap tidak berarti. Kiranya kita juga berani bangkit, berdiri, dan mengikuti Yesus, hari ini, sekarang, dengan hati yang rendah dan terbuka. Amin.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memanggil kami apa adanya. Ajari kami setia dalam hal kecil, berani bangkit dari dosa, dan mau mengikuti-Mu setiap hari. Sembuhkan hati kami, agar mampu mengasihi sesama tanpa menghakimi, serta percaya rencana-Mu bekerja dalam hidup kami hari ini selalu. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Jumat 16 Januari 2026 Markus 2:1-12 dan Renungan Harian Katolik

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post