Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Kamis 15 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Kamis 15 Januari 2026 merupakan Peringatan St. Fransiskus Fernandez de Capillas, Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Kamis 15 Januari 2026:
Bacaan Pertama: 1Sam. 4:1-11
Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel. Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek.
Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.
Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.”
Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.
Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.
Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu.
Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.
Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!”
Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah
Mazmur Tanggapan: Mzm. 44:10-11,14-15,24-25
- Engkau membuat kami mundur dari pada lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami mengadakan perampokan. Engkau menyerahkan kami sebagai domba sembelihan dan menyerakkan kami di antara bangsa-bangsa.
- Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala. Sepanjang hari aku dihadapkan dengan nodaku, dan malu menyelimuti mukaku,
- Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami? Sebab jiwa kami tertanam dalam debu, tubuh kami terhampar di tanah.
Bacaan Injil: Markus 1:40-45
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan Harian Katolik Kamis 15 Januari 2026
Saudara-saudari terkasih,
Bacaan hari ini mengajak kita masuk ke dalam dua suasana yang sangat kontras, tetapi justru saling menerangi hidup iman kita. Di satu sisi, dalam Bacaan Pertama, kita melihat bangsa Israel yang begitu yakin bahwa mereka berada di pihak Tuhan, tetapi justru mengalami kekalahan yang menyakitkan. Di sisi lain, dalam Injil, kita melihat seorang yang paling tersingkir, paling tidak layak menurut ukuran manusia, justru mengalami keselamatan karena perjumpaan pribadinya dengan Yesus.
Bangsa Israel dalam Kitab Samuel sebenarnya tidak kekurangan simbol iman. Mereka memiliki tabut perjanjian, tanda kehadiran Allah. Mereka bersorak, mereka percaya bahwa Allah pasti membela mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kekalahan mereka bukan sekadar kekalahan militer, tetapi kekalahan rohani. Mereka membawa tabut Tuhan seolah-olah Allah bisa dipanggil dan dipakai sesuai kepentingan mereka. Tuhan direduksi menjadi jimat suci, menjadi contoh kekuatan religius yang dianggap otomatis bekerja. Di sinilah letak persoalannya. Tuhan tidak pernah bisa diperlakukan sebagai alat. Iman bukan soal membawa simbol suci, melainkan soal hati yang sungguh mendengarkan dan taat kepada kehendak-Nya.
Pengalaman Israel ini sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Kita bisa rajin berdoa, aktif di gereja, mengenakan simbol iman, tetapi tanpa sadar menjadikan Tuhan sebagai “jalan pintas” untuk mengamankan rencana kita sendiri. Kita berdoa agar usaha lancar, keluarga aman, masalah cepat selesai, tetapi jarang bertanya dengan jujur: apakah aku sungguh berjalan dalam kehendak Tuhan, atau hanya ingin Tuhan mendukung keinginanku? Kekalahan Israel mengingatkan kita bahwa Tuhan bukan berada di pihak siapa pun yang merasa paling religius, tetapi di pihak kebenaran, kerendahan hati, dan pertobatan.
Injil hari ini membawa kita pada wajah Allah yang sangat berbeda dari bayangan Allah yang “dipakai” tadi. Seorang penderita kusta datang kepada Yesus. Ia tidak membawa apa-apa, tidak punya kuasa, tidak punya jaminan. Ia bahkan tidak menuntut. Katanya sederhana dan jujur: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Kalimat ini adalah doa yang lahir dari iman yang dewasa. Ia percaya akan kuasa Yesus, tetapi ia menyerahkan segalanya pada kehendak-Nya. Tidak ada paksaan, tidak ada manipulasi, hanya kepercayaan.
Yang menggetarkan adalah sikap Yesus. Injil mengatakan: tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Yesus tidak menjaga jarak, tidak takut tercemar, tidak sibuk dengan aturan. Ia mengulurkan tangan dan menjamah orang itu. Sentuhan itu lebih dari sekadar mukjizat fisik. Itu adalah pemulihan martabat manusia. Orang yang selama ini dijauhi, dihindari, dan dianggap najis, disentuh dengan kasih. Di situlah Allah sungguh hadir, bukan sebagai simbol yang dibawa-bawa, tetapi sebagai Pribadi yang mendekat dan mengasihi.
Di sinilah kita diajak bercermin. Sering kali kita ingin Tuhan hadir dalam hidup kita dengan cara spektakuler, dengan sorak-sorai seperti Israel. Padahal Tuhan sering hadir justru dalam sentuhan sederhana: dalam kejujuran menerima kelemahan, dalam doa yang apa adanya, dalam belas kasih yang kita berikan dan terima setiap hari. Tuhan lebih mudah dijumpai dalam kerendahan hati si penderita kusta daripada dalam kepercayaan diri palsu bangsa yang merasa sudah membawa Allah bersama mereka.
Yesus memang menyembuhkan orang itu, tetapi Ia juga mengajaknya untuk taat dan rendah hati, kembali pada proses yang benar. Sayangnya, orang itu malah menyebarkan kabar ke mana-mana, hingga Yesus kesulitan masuk ke kota. Ini pun sangat manusiawi. Kegembiraan bisa berubah menjadi ketidaksabaran untuk taat. Injil ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal mengalami berkat, tetapi juga soal belajar mendengarkan dan mengikuti jalan Tuhan, bahkan ketika itu tidak sesuai dengan perasaan kita.
Saudara-saudari, renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah kita datang kepada Tuhan seperti bangsa Israel yang membawa simbol dan tuntutan, atau seperti orang kusta yang datang dengan iman, kerendahan hati, dan penyerahan diri? Tuhan tidak pernah jauh. Ia selalu tergerak oleh belas kasihan. Yang sering menjadi penghalang justru cara kita sendiri memandang dan memperlakukan Dia.
Semoga kita belajar membangun iman yang tidak sekadar ramai oleh sorak religius, tetapi sungguh berakar pada relasi yang hidup dengan Kristus. Iman yang bisa dijalani, dirasakan, dan dihidupi dalam keseharian, iman yang membuat kita berani datang apa adanya, dan membiarkan Tuhan bekerja menurut kehendak-Nya, bukan kehendak kita sendiri. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah aku datang kepada-Mu dengan hati rendah, bukan membawa tuntutan, melainkan kepercayaan. Sentuhlah luka dan kesombonganku. Mampukan aku hidup taat, berbelas kasih, dan setia menjalani kehendak-Mu dalam keseharian hidupku di tengah kelemahan, pilihan kecil, dan relasi sehari-hari yang sering rapuh namun nyata. Amin.
