Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 19 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Senin 19 Januari 2026 merupakan Hari Senin Biasa II, Hari ke-2 Pekan Doa Sedunia, Santo Marius, Martir, Santo Gerlakus, pengaku Iman, Santo Gottfried atau Geoffrey, pengaku Iman, Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 19 Januari 2026:
Bacaan Pertama 1 Samuel 15:16-23
“Mengamalkan sabda Tuhan lebih baik daripada kurban sembelihan. Maka Tuhan telah menolak engkau sebagai raja.”
Setelah Raja Saul melanggar perintah Tuhan, Samuel berkata kepadanya, “Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang disabdakan Tuhan kepadaku tadi malam.” Kata Saul kepadanya, “Katakanlah!”
Sesudah itu berkatalah Samuel, “Engkau ini kecil pada pemandanganmu sendiri! Meskipun demikian bukankah engkau telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?
Bukankah Tuhan telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka?
Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau menjarah rayah dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan?”
Lalu kata Saul kepada Samuel, “Aku memang mendengarakan suara Tuhan! Aku telah mengikuti apa yang disuruhkan Tuhan kepadaku. Aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek sendiri telah kutumpas.
Tetapi rakyatlah yang mengambil dari jarahan itu: kambing domba dan lembu-lembu terbaik dari yang seharusnya ditumpas itu; maksudnya mau dipersembahkan kepada Tuhan, Allahmu, di Gilgal.”
Tetapi sahut Samuel, “Apakah Tuhan itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan, sama seperti Ia berkenan kepada pengamalan sabda-Nya?
Sesungguhnya, mengamalkan sabda lebih baik daripada kurban sembelihan, menuruti firman lebih baik daripada lemak domba jantan.
Camkanlah pendurhakaan itu sama seperti dosa bertenung dan kedegilan itu sama seperti menyembah berhala. Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Tuhan telah menolak engkau sebagai raja.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23
Ref. Orang yang jujur jalannya akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.
Bukan karena kurban sembelihan engkau Kuhukum, sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku! Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu.
”Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkau membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?”
Itulah yang engkau lakukan! Apakah Aku akan diam saja? Apakah kaukira Aku ini sederajat dengan kamu? Aku menggugat engkau dan ingin berperkara denganmu. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai kurban, ia memuliakan Daku; dan siapa yang jujur jalannya akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.
Bait Pengantar Injil Ibrani 4:12
Ref. Alleluya
Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji segala pikiran dan maksud hati.
Bacaan Injil Markus 2:18-22
“Anggur Baru dalam Kantong Baru”
Waktu itu murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa. Pada suatu hari datanglah orang-orang kepada Yesus dan berkata, “Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?”
Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.
Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang sudah tua,
karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya.
Demikian juga tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu,
sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. Jadi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 19 Januari 2026
Saudara-saudari terkasih,
bacaan hari ini membawa kita masuk ke dalam ruang batin manusia yang sangat jujur, sangat dekat, dan mungkin tanpa sadar sering kita alami sendiri.
Dalam Bacaan Pertama kita mendengar kisah Raja Saul. Ia bukan orang sembarangan. Ia dipilih Tuhan, diurapi, dipercaya memimpin umat. Tetapi di hadapan Nabi Samuel, Saul jatuh bukan karena ia tidak berkurban, bukan karena ia tidak beragama, melainkan karena ia tidak sepenuhnya taat. Saul merasa sudah melakukan cukup. Ia mendengarkan Tuhan, katanya. Ia berjuang, katanya. Bahkan ia masih menyisakan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kedengarannya baik, masuk akal, bahkan rohani. Namun justru di situlah masalahnya. Saul mengubah kehendak Tuhan sesuai logikanya sendiri. Ia memilih mana yang ia suka dan mana yang ia anggap pantas, lalu menutupinya dengan alasan ibadah.
Samuel menegur dengan kata-kata yang sangat keras, tetapi jujur dan membebaskan: mengamalkan sabda Tuhan lebih baik daripada kurban sembelihan. Tuhan bukan pertama-tama mencari ritual, melainkan ketaatan hati. Bukan persembahan besar, melainkan kesediaan untuk taat meski terasa berat, meski tidak menguntungkan, meski harus melepaskan sesuatu yang kita anggap baik menurut pikiran kita sendiri.
Lalu Injil hari ini memperdalam pesan itu dengan cara Yesus yang khas, lembut tetapi menembus hati. Orang-orang bertanya mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti yang lain. Pertanyaannya bukan soal puasa, tetapi soal pola lama yang tidak siap menerima yang baru. Yesus tidak menolak puasa, Ia tidak menolak tradisi. Tetapi Ia mengingatkan bahwa iman bukan sekadar mempertahankan bentuk lama, melainkan membuka diri pada karya Allah yang hidup dan terus bergerak. Anggur baru tidak bisa disimpan dalam kantong lama. Bukan karena kantong lama itu jahat, tetapi karena ia tidak lagi lentur.
Saudara-saudari, di sinilah dua bacaan ini bertemu dan menyentuh hidup kita hari ini. Kita bisa seperti Saul: merasa sudah cukup baik, cukup religius, cukup taat, tetapi sebenarnya hanya menaati Tuhan sejauh masih sejalan dengan kenyamanan kita. Kita rajin misa, doa, pelayanan, tetapi sulit mengampuni, sulit jujur, sulit rendah hati, sulit berubah. Kita ingin Tuhan masuk ke dalam rencana kita, bukan kita yang masuk ke dalam kehendak-Nya.
Dan kita juga bisa seperti orang-orang yang mempertanyakan Yesus: terlalu sibuk membandingkan, terlalu takut meninggalkan kebiasaan lama, sehingga kehilangan kehadiran Tuhan yang sebenarnya sedang ada di tengah-tengah kita. Kita ingin iman yang rapi, teratur, aman, tetapi lupa bahwa iman sejati menuntut hati yang mau diperbarui, mau dilunakkan, mau dibentuk ulang.
Yesus hari ini seakan berkata kepada kita: Aku bukan datang untuk menambal hidupmu yang lama, Aku datang untuk memperbarui hatimu. Bukan sekadar menambah kegiatan rohani, tetapi mengubah cara berpikir, cara mencintai, cara memandang sesama, cara memandang Tuhan. Itu sebabnya iman tidak bisa dijalani setengah-setengah. Tidak bisa memilih sabda yang nyaman lalu mengabaikan yang menantang.
Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah hidup rohani kita masih lentur? Apakah hati kita masih mau ditegur? Ataukah kita sudah merasa “cukup baik” sehingga sulit mendengarkan Tuhan ketika Ia mengajak kita melangkah lebih jauh? Tuhan tidak mencari kesempurnaan, tetapi hati yang mau taat. Tuhan tidak haus akan kurban, tetapi rindu akan hidup yang selaras dengan sabda-Nya.
Semoga Sabda hari ini menolong kita menjadi kantong baru bagi anggur baru Tuhan. Hati yang sederhana, jujur, dan mau dibentuk. Sebab di sanalah keselamatan sungguh bekerja, bukan hanya di altar, tetapi dalam hidup sehari-hari kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah aku taat pada sabda-Mu, bukan hanya rajin beribadah. Lembutkan hatiku agar mau diubah, jujur melihat diri, dan berani meninggalkan kebiasaan lama. Jadikan hidupku persembahan yang nyata bagi sesama setiap hari. Dalam pilihan kecil, pekerjaan, keluarga, dan keputusan sehari-hari yang Engkau kehendaki. Amin.
