Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 25 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Minggu 25 Januari 2026 merupakan Hari Minggu Biasa III, Hari Minggu Sabda Allah, Penutupan Pekan Doa Sedunia, Pertobatan Santo Paulus, Rasul, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 25 Januari 2026:
Bacaan Pertama Yesaya 8:23b-9:3
“Di wilayah bangsa-bangsa lain orang telah melihat terang yang besar.”
Kalau dahulu Tuhan merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Tuhan akan memuliakan jalan ke laut itu, yakni daerah seberang Sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; terang telah bersinar atas mereka yang diam di negeri kekelaman. Engkau, ya Tuhan, telah banyak menimbulkan sorak-sorai dan sukacita yang besar.
Mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti orang bersukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorai di waktu membagi-bagi jarahan.
Sebab kuk yang menekan bangsa itu dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 27:1,4,13-14
Ref. Tuhan, Dikaulah penyelamatku.
Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapa aku harus takut. Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar.
Satu hal telah ku minta kepada Tuhan, satu inilah yang ku-ingini; diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!
Bacaan Kedua 1 Korintus 1:10-13,17
“Semoga kamu seia sekata, dan jangan ada perpecahan di antara kamu.”
Saudara-saudara, aku menasihati kamu demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata, dan jangan ada perpecahan di antara kamu. Sebaliknya, hendaklah kamu erat bersatu dan sehati sepikir.
Sebab, Saudara-saudaraku, aku telah diberitahu oleh orang-orang dari keluarga Kloe bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau: Aku dari golongan Apolos.
Atau: Aku dari golongan Kefas. Atau: Aku dari golongan Kristus. Apakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan demi kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?
Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, melainkan untuk memberitakan Injil. Dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Bait Pengantar Injil Matius 4:23;2/4
Ref. Alleluya, alleluya.
Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Bacaan Injil Matius 4:12-23
“Yesus diam di Kapernaum supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya.”
Ketika mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali.
Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya: Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.
Sejak waktu itu Yesus memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas saudaranya.
Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus.
Setelah pergi dari sana, Yesus melihat pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya; bersama ayah mereka, Zebedeus, mereka sedang membereskan jala di dalam perahu.
Yesus memanggil mereka, dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Yesus. Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
Renungan Harian Katolik Minggu 25 Januari 2026
Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini sungguh terasa dekat dengan kehidupan kita. Nabi Yesaya berbicara tentang bangsa yang berjalan dalam kegelapan, lalu melihat terang yang besar. Ini bukan sekadar kisah masa lampau. Ini adalah kisah manusia sepanjang zaman, termasuk kita hari ini. Kegelapan itu bisa berupa kebingungan hidup, luka batin, ketakutan akan masa depan, konflik dalam keluarga, atau kelelahan karena tuntutan hidup yang tidak ada habisnya. Di tengah semua itu, Tuhan tidak tinggal diam. Ia datang membawa terang, bukan untuk orang-orang yang sudah sempurna, melainkan justru untuk mereka yang sedang berjalan terseok dalam gelap.
Terang itu menjadi nyata dalam diri Yesus. Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus tidak memulai karya-Nya di pusat kekuasaan atau di tempat yang dianggap suci dan terhormat. Ia justru hadir di Galilea, wilayah biasa, wilayah campuran, wilayah kehidupan sehari-hari. Di sanalah Ia bersabda, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Pertobatan yang dimaksud bukan pertama-tama soal ritual, melainkan perubahan arah hidup. Dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang terbuka pada Allah dan sesama.
Yesus memanggil orang-orang sederhana: para nelayan yang sedang bekerja, dengan tangan kotor dan hidup yang biasa-biasa saja. Mereka tidak diberi penjelasan panjang, tidak dijanjikan kenyamanan. Mereka hanya diajak berjalan bersama Yesus. Dan yang mengagumkan, mereka meninggalkan jala, perahu, bahkan keluarga, bukan karena paksaan, tetapi karena mereka merasakan ada terang dan makna yang lebih besar daripada apa yang sedang mereka pegang.
Bacaan kedua mengingatkan kita bahwa terang Kristus tidak bisa dipisah-pisahkan. Santo Paulus menegur perpecahan, karena iman bukan soal kelompok, ego, atau siapa yang paling benar. Iman adalah soal berjalan bersama dalam satu tubuh Kristus. Di zaman sekarang, perpecahan bisa muncul lewat perbedaan pandangan, pilihan, bahkan di dalam Gereja sendiri. Sabda Tuhan mengajak kita kembali pada yang pokok: Kristuslah pusatnya, bukan kepentingan kita.
Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: jala apa yang masih kita genggam terlalu erat sehingga sulit mengikuti Tuhan sepenuhnya? Mungkin jala itu adalah rasa aman palsu, kebiasaan lama, ego, atau luka yang belum mau kita lepaskan. Yesus tidak menuntut kita langsung sempurna. Ia hanya mengajak kita melangkah bersama-Nya, hari ini, di tempat kita berada, dengan hidup yang nyata. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terang sejati dalam hidup kami, ajarilah kami berani meninggalkan kegelapan yang mengikat hati kami. Bimbing langkah kami agar setia mengikuti Engkau dalam kehidupan sehari-hari, membangun persatuan, membawa harapan, dan menjadi saksi kasih-Mu di dunia yang haus makna. Amin.
