Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 3 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Selasa 3 Februari 2026 merupakan Hari Selasa Biasa IV, Perayaan fakultatif Santo Blasius, Uskup dan Martir, Santo Ansgarius, Uskup, Santo Gilbertus, Imam, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 3 Februari 2026:
Bacaan Pertama 2 Samuel 18:9-10.14b.24-25a.30-19:3
“Daud meratapi kematian Absalom.”
Waktu melarikan diri, Absalom bertemu dengan anak buah Daud. Saat itu Absalom sedang memacu bagalnya. Ketika bagal itu lewat di bawah jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar,
tersangkutlah rambut kepala Absalom pada pohon tarbantin itu, sehingga ia tergantung antara langit dan bumi, sedang bagal yang ditungganginya berlari terus.
Seseorang melihatnya, lalu memberitahu Yoab, katanya, “Aku melihat Absalom tergantung pada pohon tarbantin.” Lalu Yoab mengambil tiga lembing dalam tangannya,
dan ditikamnya ke dada Absalom! Waktu itu Daud sedang duduk di antara kedua pintu gerbang sementara penjaga naik ke sotoh pintu gerbang itu, di atas tembok.
Ketika ia melayangkan pandangnya, dilihatnyalah orang datang berlari, seorang diri saja. Berserulah penjaga memberitahu raja.
Lalu raja berkata kepada Ahimaas, “Pergilah ke samping, berdirilah di situ.” Ahimaas pergi ke samping dan berdiri di situ. Kemudian tibalah orang Etiopia itu.
Kata orang Etiopia itu, “Tuanku Raja mendapat kabar yang baik, sebab Tuhan telah memberi keadilan kepadamu pada hari ini! Tuhan melepaskan Tuanku dari tangan semua orang yang bangkit menentang Tuanku.”
Tetapi bertanyalah Raja Daud kepada orang Etiopia itu, “Selamatkanlah Absalom, orang muda itu?” Jawab orang Etiopia itu, “Biarlah seperti orang muda itu musuh Tuanku Raja dan semua orang yang bangkit menentang Tuanku untuk berbuat jahat.”
Maka terkejutlah raja! Dengan sedih ia naik ke anjung pintu gerbang lalu menangis. Dan beginilah perkataannya sambil berjalan, “Anakku Absalom, anakku! Ah, anakku Absalom,
sekiranya aku boleh mati menggantikan engkau! Absalom, Absalom, anakku!” Lalu diberitahukan oranglah kepada Yoab, “Ketahuilah, raja menangis dan berkabung karena Absalom.”
Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara mendengar orang berkata, “Raja bersusah hati karena anaknya.”
Maka pada hari itu tentara Israel masuk kota dengan diam-diam, seperti tentara yang kena malu karena melarikan diri dari pertempuran.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 86:1-2.3-4.5-6
Ref. Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, dan jawablah aku.
Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan dan jawablah aku, sebab sengsara dan miskinlah aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku ini orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni, kasih setia-Mu berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.
Bait Pengantar Injil Matius 8:17
Ref. Alleluya
Yesus memikul kelemahan kita, dan menanggung penyakit kita.
Bacaan Injil Markus 5:21-43
“Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!”
Sekali peristiwa, sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus.
Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.”
Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?”
Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?”
Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.
Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”
Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?”
Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”
Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.
Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.
Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.
Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”
Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun.
Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Selasa 3 Februari 2026
Sabda hari ini membawa kita masuk ke ruang batin manusia yang sangat dalam, ruang di mana iman, luka, harapan, dan air mata bertemu. Dari Bacaan Pertama kita mendengar ratapan Daud atas kematian Absalom, anak yang dikasihinya, sekaligus anak yang memberontak melawannya. Ini bukan sekadar kisah politik atau kekalahan perang, melainkan kisah hati seorang ayah yang hancur. Daud tidak bersorak atas kemenangan. Ia tidak menghitung jasa tentaranya. Ia menangis. Ia kehilangan. Ia berduka. Di hadapan kematian anaknya, semua gelar, kuasa, dan kejayaan runtuh menjadi satu jeritan: “Anakku Absalom, sekiranya aku boleh mati menggantikan engkau.”
Ratapan Daud ini sangat manusiawi dan sangat dekat dengan hidup kita. Kita hidup di dunia yang sering menuntut kita untuk tampak kuat, tegar, dan berhasil. Namun Sabda hari ini menunjukkan bahwa di hadapan kehilangan, luka, dan kegagalan relasi, iman tidak menuntut kita berpura-pura kuat. Daud tidak menutup dukanya. Ia tidak menyembunyikan air matanya. Ia jujur pada perasaannya. Di sinilah iman mulai menjadi nyata, bukan sebagai teori, tetapi sebagai keberanian untuk membawa luka ke hadapan Tuhan.
Injil hari ini membawa kita lebih jauh, bukan dengan menghapus penderitaan, tetapi dengan menunjukkan siapa Tuhan di tengah penderitaan itu. Kita melihat Yairus, seorang kepala rumah ibadat, seorang yang terpandang, jatuh tersungkur di kaki Yesus karena anaknya sekarat. Jabatan dan kehormatan tidak menyelamatkan anaknya. Yang tersisa hanyalah iman yang rapuh, iman seorang ayah yang takut kehilangan. Di saat yang sama, seorang perempuan yang dua belas tahun menderita pendarahan datang diam-diam, penuh rasa malu dan putus asa. Ia tidak berani berbicara, ia hanya berharap menyentuh jubah Yesus.
Yesus berhenti. Ia tidak tergesa-gesa. Ia memberi ruang bagi perempuan itu untuk berdiri, jujur, dan dipulihkan martabatnya. Namun justru di tengah penantian itu, kabar kematian datang kepada Yairus. Secara manusiawi, semuanya sudah terlambat. Harapan seolah mati. Tetapi di titik inilah Yesus mengucapkan kata yang menjadi pusat iman kita: “Jangan takut, percaya saja.” Bukan janji instan, bukan jaminan bebas masalah, melainkan undangan untuk tetap percaya bahkan ketika kenyataan terasa pahit.
Yesus masuk ke rumah duka, ke ruang tangis dan ratapan. Ia mengusir keributan, memegang tangan anak itu, dan berkata dengan lembut: “Hai anak, bangunlah.” Sabda ini bukan hanya untuk anak Yairus. Ini adalah Sabda bagi setiap hati yang mati oleh ketakutan, keputusasaan, luka keluarga, kegagalan, dan kehilangan. Allah kita adalah Allah yang tidak jauh dari air mata manusia. Ia memikul kelemahan kita, menanggung luka kita, dan menyentuh hidup kita dengan kasih yang memulihkan.
Dalam terang Sabda ini, iman bukan berarti tidak pernah menangis seperti Daud, tetapi berani berharap seperti Yairus. Bukan berarti tidak terluka, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan hadir bahkan ketika segalanya terasa runtuh. Dan mungkin hari ini, Tuhan sedang menggenggam tangan hidup kita dan berkata dengan lembut, “Bangunlah.” Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau mengenal air mata dan ketakutan kami. Peganglah tangan hidup kami yang lemah, bangkitkan iman kami yang hampir padam. Ajarlah kami percaya di tengah luka dan kehilangan, agar hidup kami tetap berjalan dalam harapan dan kasih-Mu. Amin.
