Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 2 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Senin 2 Februari 2026 merupakan Hari Senin, Pesta Yesus dipersembahkan di Kenizah, Beata Eugenia de Smet, Perawan, Santa Yoana Lestonac, Janda, Beato Theofanus Venard, Martir, dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 2 Februari 2026:
Bacaan Pertama Maleakhi 3:1-4
“Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya.”
Beginilah firman Tuhan semesta alam, “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke bait-Nya.
Malaikat perjanjian yang kamu kehendaki itu sesungguhnya, Ia datang. Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban yang benar kepada Tuhan.
Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati Tuhan seperti pada hari-hari dahulu kala, dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7.8.9.10
Ref. Bukalah pintu hatimu, sambutlah Raja Sang Kristus.
Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!
Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan yang perkasa dalam peperangan!
Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan.
Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!
Bait Pengantar Injil: Lukas 2:32
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Alleluya.
Bacaan Injil: Lukas 2:22-40
“Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.”
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Maria dan Yusuf membawa Anak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.”
Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon.
Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel; Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah.
Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya, untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
“Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Anak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Ada juga di situ seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah Hana pun datang ke Bait Allah, dan bersyukur kepada Allah serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus ke kota kediamannya, yaitu Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 2 Februari 2026
Berhadapan dengan Sabda hari ini, kita seperti diajak berdiri di ambang pintu bait Allah, bukan hanya bait yang terbuat dari batu, tetapi bait yang bernama hati manusia. Nabi Maleakhi berkata bahwa Tuhan yang kita cari akan datang dengan tiba-tiba. Ia datang bukan untuk mengagumi, melainkan untuk memurnikan. Seperti api tukang pemurni dan sabun penatu, kehadiran Tuhan selalu mengguncang, sebab Ia tidak hanya ingin disambut, tetapi ingin membersihkan. Kita sering mencari Tuhan agar hidup terasa aman, masalah cepat selesai, doa segera dijawab. Namun Sabda hari ini jujur berkata: ketika Tuhan sungguh masuk, Ia akan mengubah, dan perubahan itu tidak selalu nyaman.
Injil menampilkan Yesus kecil yang dibawa Maria dan Yusuf ke Bait Allah. Tidak ada mukjizat besar, tidak ada sorak sorai. Yang ada hanyalah ketaatan sederhana dan kesetiaan menjalani iman sehari-hari. Simeon dan Hana adalah gambaran manusia yang hatinya terbuka dan dimurnikan oleh penantian panjang. Mereka tidak mengejar sensasi rohani, tetapi setia hidup benar. Maka ketika keselamatan itu datang dalam rupa bayi kecil, mereka mampu mengenalinya. Simeon tidak berkata bahwa hidupnya kini sempurna, tetapi ia berkata bahwa ia bisa pergi dengan damai, sebab matanya telah melihat keselamatan.
Di sinilah Sabda ini menyentuh hidup kita hari ini. Kita hidup di zaman serba cepat, ingin hasil instan, bahkan dalam iman. Kita ingin Tuhan masuk ke hidup kita, tetapi sering menutup pintu ketika Ia mulai menyentuh kebiasaan kita, ego kita, luka batin kita, atau cara kita memperlakukan sesama. Tuhan masuk ke bait-Nya bukan untuk menghakimi, melainkan agar persembahan hidup kita menjadi murni, menjadi masuk akal, menjadi sungguh manusiawi. Iman yang sejati bukan hanya rajin berdoa, tetapi berani dibentuk, berani dimurnikan, dan berani berubah.
Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah akhirnya akan menjadi tanda pertentangan. Ia tetap demikian hingga hari ini. Ia menantang kita untuk jujur pada hati sendiri. Apakah kita benar-benar menantikan Tuhan, atau hanya menantikan kenyamanan? Simeon dan Hana mengajarkan bahwa iman yang matang lahir dari kesetiaan kecil yang dijalani setiap hari. Dari situlah damai sejati tumbuh, damai yang masuk akal, damai yang bisa dirasakan, karena Tuhan sungguh tinggal di dalam hidup kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, masuklah ke dalam hati kami yang sering tertutup oleh ketakutan dan ego. Murnikanlah hidup kami agar iman kami nyata dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Ajarlah kami setia menantikan-Mu, hingga hidup kami menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu. Amin.
