Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Jumat 22 Mei 2026.
Kalender Liturgi hari Jumat 22 Mei 2026 adalah HARI JUMAT PASKAH VII, Perayaan St. Rita dr Cascia, dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Jumat 22 Mei 2026:
Bacaan I: Kis. 25:13-21
Beberapa hari kemudian datanglah raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus.
Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal di situ, Festus memaparkan perkara Paulus kepada raja itu, katanya: “Di sini ada seorang tahanan yang ditinggalkan Feliks pada waktu ia pergi. Ketika aku berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi mengajukan dakwaan terhadap orang itu dan meminta supaya ia dihukum.
Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap tuduhan itu.
Karena itu mereka turut bersama-sama dengan aku ke mari. Pada keesokan harinya aku segera mengadakan sidang pengadilan dan menyuruh menghadapkan orang itu. Tetapi ketika para pendakwa berdiri di sekelilingnya, mereka tidak mengajukan suatu tuduhanpun tentang perbuatan jahat seperti yang telah aku duga.
Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup.
Karena aku ragu-ragu bagaimana aku harus memeriksa perkara-perkara seperti itu, aku menanyakan apakah ia mau pergi ke Yerusalem, supaya perkaranya dihakimi di situ. Tetapi Paulus naik banding. Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan dan menunggu, sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan: Mzm. 103:1-2,11-12,19-20b
- Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!
- Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.
- TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.
Bacaan Injil: Yohanes 21:15-19
Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”
Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Jumat 22 Mei 2026
Renungan Harian Katolik — Jumat, 22 Mei 2026
Hari Jumat Paskah VII — Peringatan Santo Rita dari Cascia
Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini adalah salah satu percakapan paling menyentuh antara Yesus dan Petrus. Setelah semua kegagalan Petrus, setelah penyangkalannya yang menyakitkan, Yesus tidak datang untuk mempermalukan atau menghukumnya. Yesus datang dengan satu pertanyaan sederhana, tetapi sangat dalam: “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Tiga kali Yesus bertanya. Dan setiap kali pertanyaan itu terdengar, sebenarnya Yesus sedang menyentuh luka hati Petrus. Sebab Petrus pernah tiga kali menyangkal Yesus. Petrus pasti masih menyimpan rasa bersalah itu dalam dirinya. Ia pernah begitu yakin bahwa dirinya kuat dan setia, tetapi kenyataannya ia jatuh. Ia takut. Ia gagal. Dan mungkin dalam hatinya, Petrus merasa dirinya tidak pantas lagi dekat dengan Tuhan.
Bukankah itu juga sering terjadi dalam hidup kita? Ada orang yang perlahan menjauh dari Tuhan bukan karena tidak percaya lagi, tetapi karena merasa terlalu banyak kesalahan. Ada yang berhenti berdoa karena merasa hidupnya tidak baik. Ada yang datang ke gereja tetapi hatinya penuh rasa bersalah. Kadang manusia lebih sulit mengampuni dirinya sendiri daripada percaya pada kasih Tuhan.
Namun Injil hari ini menunjukkan sesuatu yang sangat indah: Tuhan tidak mendefinisikan hidup kita dari kegagalan masa lalu. Yesus tidak berkata kepada Petrus, “Mengapa dulu engkau menyangkal Aku?” Yesus justru bertanya tentang kasih. Karena bagi Tuhan, yang terpenting bukan seberapa sempurna masa lalu kita, tetapi apakah hati kita masih mau kembali mengasihi-Nya.
Petrus akhirnya menjawab dengan rendah hati, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Tidak ada lagi kesombongan dalam dirinya. Petrus sekarang berbicara sebagai manusia yang pernah jatuh dan sadar bahwa ia membutuhkan Tuhan. Dan justru di titik itulah Tuhan mempercayakan tugas besar kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Sering kali manusia berpikir Tuhan hanya memakai orang-orang yang sempurna. Padahal dalam kenyataannya, Tuhan sering memakai orang-orang yang pernah hancur, pernah gagal, pernah menangis, tetapi mau bangkit kembali. Orang yang pernah mengalami kelemahan biasanya lebih mampu memahami luka sesama. Hatinya lebih lembut. Ia tidak mudah menghakimi.
Dalam kehidupan sekarang, banyak orang terlihat kuat di luar tetapi sebenarnya sedang lelah di dalam. Ada yang tersenyum sambil memikul tekanan hidup. Ada yang tetap bekerja walau hatinya penuh kekhawatiran. Ada yang diam-diam merasa gagal sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai pasangan, atau sebagai pribadi. Dan sering kali dunia hanya menilai hasil luar tanpa pernah tahu perjuangan batin seseorang.
Karena itu Injil hari ini memberi harapan besar. Tuhan tidak menjauh dari manusia yang jatuh. Tuhan justru mendekat. Tuhan masih memanggil. Tuhan masih percaya. Bahkan setelah kegagalan terbesar sekalipun, kasih Tuhan tetap membuka jalan baru.
Lalu Yesus berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku.” Kalimat itu bukan hanya ajakan berjalan bersama Tuhan saat semuanya mudah. Mengikuti Tuhan berarti tetap setia saat hidup tidak sesuai harapan, tetap memilih kasih saat disakiti, tetap jujur saat banyak orang memilih jalan curang, tetap percaya saat keadaan terasa gelap.
Mengasihi Tuhan bukan hanya soal kata-kata doa, tetapi bagaimana kita hidup setiap hari. Saat kita sabar menghadapi keluarga, saat kita tetap peduli kepada orang kecil, saat kita menolong tanpa mencari pujian, saat kita tetap bertahan dalam iman meski hidup terasa berat — di situlah kasih kepada Tuhan menjadi nyata.
Hari ini Tuhan tidak bertanya seberapa hebat kita. Tuhan hanya bertanya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan kasih yang sejati selalu terlihat dari hati yang mau kembali, mau berubah, dan mau tetap mengikuti Tuhan di tengah perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, sering kali kami jatuh, kecewa, dan merasa tidak layak di hadapan-Mu. Namun kasih-Mu tidak pernah meninggalkan kami. Ajarlah kami tetap setia mengikuti-Mu dalam keadaan apa pun. Lembutkan hati kami agar mampu mengasihi dengan tulus, mengampuni, dan tetap percaya pada rencana-Mu dalam hidup kami. Amin.
