Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Kamis 11 Juni 2026.
Kalender Liturgi hari Kamis 11 Juni 2026 adalah Perayaan Wajib Santo Barnabas Rasul: Kisah, Mukjizat, dan Teladan Iman, dengan Warna Liturgi Merah.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Kamis 11 Juni 2026:
Bacaan Pertama: Kis. 11:21b-26;13:1-3
Pada perkembangan awal umat beriman, di Antiokhia sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem.Kekristenan
Lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan.
Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman, sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus. Setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, Lukius orang Kirene, Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.
Pada suatu hari, ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 98:2-3ab,3c-4,5-6
Ref. Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya. Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!
Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu merdu; dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-sorailah di hadapan Raja, yakni Tuhan!
Bait Pengantar Injil: Mat 28:19-20
Ref. Alleluya, alleluya.
Pergilah, ajarlah segala bangsa, sabda Tuhan. Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.
Bacaan Injil: Matius 10:7-13
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang-orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan! Kamu telah menerima dengan cuma-cuma; karena itu berilah dengan cuma-cuma pula!
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.
Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak, dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya; jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis 11 Juni 2026
Berikut renungan harian dengan gaya homili yang mengalir, reflektif, dan dekat dengan pengalaman hidup umat saat ini.
Renungan Harian Katolik
Kamis, 11 Juni 2026
Pesta Santo Barnabas Rasul
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Ada sebuah kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Banyak orang ingin menjadi pribadi yang berhasil, dihargai, dan dikenang. Namun tidak banyak yang rela menjadi pribadi yang membantu orang lain bertumbuh, bahkan jika namanya sendiri tidak dikenal. Dunia sering mengajarkan kita untuk menjadi pusat perhatian. Tetapi Kerajaan Allah justru memperlihatkan keindahan orang-orang yang rela menjadi jembatan bagi pertumbuhan sesamanya.
Hari ini Gereja merayakan Santo Barnabas Rasul. Menarik bahwa Barnabas bukan termasuk dua belas rasul pertama yang dipilih Yesus. Namun namanya dikenang sepanjang sejarah Gereja karena peran yang sangat besar dalam perkembangan Gereja perdana.
Dalam Bacaan Pertama kita melihat sosok Barnabas sebagai seorang yang baik, penuh Roh Kudus dan iman. Ketika tiba di Antiokhia dan melihat karya Allah berkembang di sana, ia tidak iri, tidak merasa tersaingi, dan tidak mencari pujian bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia bersukacita melihat orang-orang semakin dekat kepada Tuhan.
Di sinilah letak kebesaran Barnabas. Ia memiliki hati yang luas. Ia tidak sibuk membesarkan dirinya, tetapi sibuk membesarkan karya Tuhan.
Salah satu tindakan paling penting yang dilakukan Barnabas adalah mencari Saulus, yang kemudian dikenal sebagai Paulus. Pada waktu itu, banyak orang masih meragukan Saulus karena masa lalunya sebagai penganiaya umat Kristen. Banyak yang menjaga jarak darinya. Namun Barnabas melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat kemungkinan yang sedang dikerjakan Tuhan dalam diri Saulus.
Barnabas memberi kesempatan, memberi kepercayaan, dan mendampingi. Karena itulah Paulus akhirnya berkembang menjadi salah satu pewarta Injil terbesar dalam sejarah Gereja.
Renungan ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Betapa sering kita mudah menghakimi seseorang berdasarkan masa lalunya. Kita mengingat kesalahannya lebih lama daripada melihat pertobatannya. Kita terkadang lebih cepat memberi label daripada memberi kesempatan.
Padahal banyak orang bertumbuh justru karena ada seseorang yang percaya kepada mereka ketika yang lain meragukan mereka.
Mungkin dalam hidup kita pernah ada seorang “Barnabas”. Seseorang yang memberi semangat ketika kita gagal. Seseorang yang tetap percaya ketika kita kehilangan kepercayaan diri. Seseorang yang melihat potensi dalam diri kita ketika kita sendiri tidak mampu melihatnya.
Dan mungkin sekarang Tuhan memanggil kita untuk menjadi Barnabas bagi orang lain.
Di tengah keluarga, bisa jadi ada anak yang sedang kehilangan arah dan membutuhkan dukungan. Di tempat kerja, mungkin ada rekan yang sedang berjuang memperbaiki diri. Di lingkungan sekitar, mungkin ada seseorang yang merasa tidak diterima karena kesalahan masa lalunya. Tuhan mengundang kita untuk melihat mereka dengan mata belas kasih, bukan dengan mata penghakiman.
Injil hari ini semakin memperdalam panggilan tersebut. Yesus mengutus para murid untuk pergi mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Menariknya, sebelum berbicara tentang strategi atau keberhasilan, Yesus terlebih dahulu berbicara tentang sikap hati.
“Kamu telah menerima dengan cuma-cuma; karena itu berilah dengan cuma-cuma pula.”
Kalimat ini menyentuh inti kehidupan Kristiani. Segala sesuatu yang paling berharga dalam hidup sebenarnya kita terima secara cuma-cuma. Kehidupan, kasih Tuhan, pengampunan, kesempatan baru, keluarga, kesehatan, bahkan keselamatan, semuanya adalah anugerah.
Namun sering kali manusia mulai menghitung-hitung. Kita mudah memberi jika ada keuntungan. Kita mudah membantu jika ada balasan. Kita mudah berbuat baik jika ada penghargaan.
Yesus mengingatkan bahwa murid-Nya dipanggil untuk memberi sebagaimana Allah memberi: dengan kemurahan hati.
Ini bukan hanya soal materi. Memberi bisa berarti memberikan waktu kepada anggota keluarga yang membutuhkan perhatian. Memberi bisa berarti mendengarkan orang yang sedang terluka. Memberi bisa berarti memaafkan meskipun ego kita terluka. Memberi bisa berarti menghibur orang yang sedang kehilangan harapan.
Terkadang yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah uang atau hadiah, melainkan kehadiran yang tulus.
Yesus juga meminta para murid untuk pergi tanpa terlalu bergantung pada bekal dan jaminan duniawi. Bukan karena Tuhan mengabaikan kebutuhan manusia, tetapi karena Ia ingin para murid belajar mempercayakan diri kepada penyelenggaraan Allah.
Kita hidup di zaman yang sangat menghargai kontrol dan kepastian. Kita ingin mengetahui semua jawaban sebelum melangkah. Kita ingin memastikan semuanya aman sebelum bertindak. Namun iman sering kali mengajak kita melangkah terlebih dahulu bersama Tuhan, lalu menyaksikan bagaimana Tuhan membuka jalan sedikit demi sedikit.
Santo Barnabas memahami hal itu. Ia meninggalkan kenyamanan demi mengikuti panggilan Tuhan. Ia tidak mencari keamanan dirinya sendiri, tetapi memilih menjadi alat bagi perkembangan Gereja.
Saudara-saudari terkasih,
Pesta Santo Barnabas hari ini mengajak kita merenungkan dua pertanyaan penting. Pertama, apakah saya menjadi pribadi yang membantu orang lain bertumbuh atau justru menjadi penghalang bagi pertumbuhan mereka? Kedua, apakah saya memberi dengan hati yang tulus atau masih selalu menghitung untung dan rugi?
Dunia mungkin mengingat orang-orang besar yang tampil di depan. Namun Tuhan juga bekerja melalui orang-orang seperti Barnabas, yang diam-diam menguatkan, mendampingi, dan membuka jalan bagi sesamanya.
Semoga kita memiliki hati seperti Barnabas: hati yang tidak iri melihat keberhasilan orang lain, hati yang mampu melihat harapan di balik kelemahan seseorang, dan hati yang murah hati dalam memberi karena menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, bebaskan hati kami dari iri hati, egoisme, dan keinginan mencari pujian. Ajarlah kami memberi dengan tulus, percaya pada penyelenggaraan-Mu, dan menjadi pembawa harapan bagi mereka yang sedang berjuang dalam hidup. Amin.