Media sosial kembali ramai gara-gara sebuah video dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Kali ini, bukan soal pemandangan atau kabar viral biasa, melainkan aksi seorang warga yang terlihat menginjak bantuan untuk masyarakat terdampak gempa.
Peristiwa tersebut terjadi setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores. Di tengah kondisi warga yang masih membutuhkan berbagai bantuan, video tersebut sontak bikin netizen bertanya-tanya. Kok bisa bantuan yang seharusnya diterima dengan baik justru diinjak-injak?
Video itu diketahui direkam sendiri oleh Saimin Sadang Syawal, warga Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Dalam rekaman yang beredar, tampak sejumlah bungkus mi instan dan biskuit berada di lantai.
Saimin kemudian menyampaikan protesnya terkait bantuan yang diterima masyarakat di desanya.
“Datang kembali bantuan dari Pemda Manggarai Timur. Mie 3 bungkus, malkist 1 bungkus. Ini bantuannya sangat memalukan. Ini masyarakat injak-injak mienya,”
Aksi tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan menuai beragam respons. Sebagian warganet mengecam tindakan tersebut karena bantuan diberikan untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.
Namun, di balik video yang bikin heboh itu, ternyata ada persoalan mengenai rasa ketidakpuasan warga terhadap bantuan yang diterima.
Polisi Turun Langsung Klarifikasi
Setelah video tersebut viral, pihak kepolisian tidak tinggal diam. Kasi Humas Polres Manggarai Timur, AKP Irmawan Pujianto, menyampaikan bahwa polisi telah mendatangi Saimin untuk meminta penjelasan mengenai aksinya.
Dari hasil klarifikasi, diketahui bahwa tindakan tersebut dilakukan karena Saimin merasa bantuan yang datang ke wilayahnya belum sesuai dengan harapan masyarakat.
“Ia mengaku melakukan itu karena tidak puas dengan bantuan yang datang. Dia merasa bantuan yang datang tidak seimbang,” kata Pujianto kepada Kompas.com, Rabu (9/9/2026).
Dengan kata lain, aksi yang awalnya terlihat seperti bentuk penolakan terhadap bantuan ternyata berkaitan dengan kekecewaan warga terhadap jumlah atau pembagian bantuan yang diterima.
Dalam situasi bencana, distribusi bantuan memang menjadi salah satu hal yang cukup sensitif. Masyarakat terdampak tentu berharap kebutuhan mereka bisa terpenuhi secara adil, apalagi ketika kondisi di lapangan masih serba terbatas.
Mengaku Khilaf dan Emosi Sesaat
Setelah dimintai keterangan, Saimin disebut mengakui perbuatannya. Ia juga menyadari bahwa tindakannya tersebut tidak semestinya dilakukan, terlebih karena video itu kemudian disebarkan ke media sosial dan akhirnya menjadi viral.
“Dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu tidak semestinya dilakukan apalagi menyebarkannya ke media sosial,” imbuh Pujianto.
Saimin juga disebut mengaku khilaf dan terbawa emosi sesaat ketika melakukan aksi tersebut.
Meski videonya telah memicu banyak reaksi dari masyarakat, polisi memastikan persoalan tersebut tidak dilanjutkan ke ranah pidana.
Viral di Media Sosial, Pesannya Jadi Sorotan
Kasus ini akhirnya bukan cuma soal mi instan atau biskuit yang terlihat dalam video. Lebih jauh, kejadian tersebut memperlihatkan betapa pentingnya komunikasi dan transparansi dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat yang sedang terdampak bencana.
Di satu sisi, warga terdampak memang punya hak untuk menyampaikan keluhan apabila merasa bantuan belum mencukupi. Namun, cara menyampaikan kekecewaan juga tetap perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Sementara itu, video yang telanjur viral menjadi pengingat bahwa setiap tindakan yang direkam dan diunggah ke media sosial bisa menyebar jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Pada akhirnya, kebutuhan utama masyarakat pascabencana tetap sama: bantuan yang tepat sasaran, pembagian yang adil, serta komunikasi yang jelas antara pemerintah dan warga. Dengan begitu, persoalan di lapangan bisa diselesaikan lewat dialog, bukan malah berkembang menjadi polemik baru di media sosial.