Toko Pak Mul Solo Viral di Media Sosial, Pemilik Luruskan Nama Sang Ayah dan Cerita di Balik Mural

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Ada-ada saja cara sebuah toko kelontong menarik perhatian warganet. Sebuah toko sederhana di kawasan Debegan, Mojosongo, Jebres, Solo, mendadak jadi bahan obrolan setelah tulisan di dindingnya beredar luas di media sosial.

Bukan promo diskon, bukan juga tulisan “buka 24 jam”. Justru kalimat “Jika Tutup Berarti Lagi Bad Mood” yang bikin orang-orang auto penasaran. Ditambah mural bergaya doodle dengan gambar makanan, mi, sampai tabung gas, tampilan Toko Pak Mul pun terlihat cukup nyentrik dibanding toko kelontong pada umumnya.

Di balik tulisan yang bikin netizen gagal fokus itu ternyata ada cerita yang cukup personal. Pemilik toko, Chandra Muzty (31), menjelaskan bahwa usaha tersebut merupakan peninggalan sang ayah yang bernama Mulyadi. Ia bahkan meluruskan anggapan yang sempat muncul di media sosial bahwa nama ayahnya adalah Mulyono.

“Bapakku Mulyadi, bukan Mulyono,” begitu inti penjelasan Chandra mengenai nama Pak Mul yang digunakan sebagai identitas toko.

Ayah Chandra yang akrab disapa Pak Mul tersebut sudah meninggal dunia pada 2022. Sementara itu, Toko Pak Mul sendiri sudah dirintis sejak sekitar 2006.

Mendadak Diserbu Setelah Viral

Setelah foto mural toko tersebut ramai di media sosial, suasana di Toko Pak Mul ikut berubah. Banyak orang datang bukan cuma untuk belanja, tetapi juga penasaran ingin melihat langsung toko yang punya pengumuman tutup dengan alasan “bad mood”.

Chandra mengatakan sebenarnya toko tersebut memang sudah cukup dikenal dan ramai meski sebelum viral. Hanya saja, ia memang tidak menerapkan jam operasional yang kaku.

Pada hari pertama tulisan tersebut viral, misalnya, Chandra sempat membuka toko sejak pukul 07.00 WIB. Namun, sekitar pukul 10.00 WIB ia memilih berhenti karena tubuhnya terasa lelah, terutama bagian punggung.

“Ndelalah (tiba-tiba) anakku itu ikut mbahe. Aku gabut nih, tak buka dari jam 7 sampai jam 10, boyokku (punggungku) lara (sakit),” ungkap Chandra sambil berkelakar saat ditemui Kompas.com, Rabu (30/9/2026) pagi.

Menurutnya, kondisi toko yang kadang tutup mendadak sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ia memang tidak selalu sanggup membuka toko dari pagi sampai malam.

“Dibilang kalau untungnya lumayan, cuman ya gitu mau, emang dasarnya males aku,” sebutnya.

Menariknya, viral di media sosial ternyata tidak otomatis membuat pemasukan toko melonjak drastis. Chandra mengatakan pendapatannya masih kurang lebih sama seperti biasanya.

“Nggak ada bedanya. Penghasilannya ya kayak biasanya kalau pas rame gitu aja. Cuma banyak yang datang bikin konten, bikin video. Ya lucu-lucu,” jelasnya.

Jadi, kalau ada yang mengira Toko Pak Mul langsung kebanjiran pembeli gara-gara viral, faktanya tidak seperti itu. Pengunjung memang bertambah, tetapi banyak di antaranya datang karena penasaran dan ingin mengabadikan momen.

Warganet Malah Ramai Mendoakan Pak Mul

Ada satu hal yang justru membuat Chandra tersentuh setelah membaca komentar-komentar warganet.

Sebagian netizen ternyata mengira Pak Mul masih hidup. Mereka kemudian menuliskan doa dan harapan baik untuk sosok yang namanya terpampang di depan toko tersebut.

Padahal, ayah Chandra, Mulyadi alias Pak Mul, telah meninggal dunia pada 2022.

“Kayak malah banyak yang doain, bapakku gitu loh. Mereka enggak tahu (kalau Pak Mul sudah meninggal) doain. Pas habis bacain komen-komen, wah aku kok terharu. Aku nyekar,” lanjutnya sambil tertawa.

“Ya emang di situ (TPU Untoroloyo) sih, emang misal tiap hari nyekar pun bisa,” tambahnya.

Buat Chandra, ramainya doa dari orang-orang yang bahkan tidak mengenal ayahnya secara langsung menjadi sisi lain yang cukup menyentuh dari viralnya toko tersebut.

Mural Dikerjakan Cuma Dua Hari

Tulisan yang bikin warganet salah fokus itu bukan dibuat secara asal. Chandra mengatakan mural tersebut dikerjakan oleh seorang tukang mural di Solo dengan biaya sekitar Rp600.000 hingga Rp700.000.

Proses pengerjaannya berlangsung selama dua hari.

Konsepnya berasal dari Chandra. Ia menyiapkan ide serta gambar yang diinginkan, kemudian mengirimkannya kepada pembuat mural untuk direalisasikan pada bagian depan toko.

Awalnya, Chandra sama sekali tidak menyangka mural tersebut bakal menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Menurut dia, mural dengan gaya seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing di Solo maupun Yogyakarta.

“Ternyata sing marai (yang membuat) gagal fokus gara-gara tulisan itu. Ya, tapi kok ya viral gitu loh, Mas. Padahal kan kalau kayak gini itu di Solo biasa. Gambar-gambar kayak gini itu banyak ditemuin. Enggak tahu kenapa,” tuturnya.

“Menurutku kalimat yang tak bikin itu bad mood itu kayaknya emang biasa juga. Ya enggak tahu mungkin terlalu asbun,” imbuhnya.

Kenapa Toko Bisa Tutup Mendadak?

Nah, bagian ini yang bikin tulisan “Jika Tutup Berarti Lagi Bad Mood” terasa makin relate.

Chandra memang tidak punya jadwal buka-tutup toko yang benar-benar tetap. Berbeda dari toko kelontong lain yang biasanya memiliki jam operasional jelas, ia membuka toko sesuai kondisi dan kesempatannya.

Kadang ia ingin beristirahat. Kadang harus mengurus anak. Ada pula saat dirinya memiliki keperluan lain.

“Kan kalau yang lain buka jam 7 sampai jam 10 malam, nah. Aku nggak bisa, aku kayak gitu nggak bisa,” terang Chandra.

Lalu, kenapa harus menggunakan alasan “bad mood”?

Jawabannya cukup simpel. Chandra merasa daripada harus menjelaskan alasan berbeda-beda kepada orang yang bertanya kenapa toko kemarin tutup, ia memilih membuat jawaban yang lebih praktis sekaligus unik.

“Kenapa kok ditulis bad mood? Daripada ditanyain. Kok kemarin tutup, buka-tutup buka-tutup. Daripada aku jawab jujur kan biasane, oh kemarin sakit. Ya udah, tulis aja bad mood,” jelasnya.

Alhasil, kalimat yang awalnya hanya dimaksudkan untuk mempermudah urusan toko justru berubah menjadi tulisan yang bikin banyak orang penasaran.

Toko Pak Mul Sudah Ada Sejak 2006

Kalau melihat toko tersebut sekarang, mungkin orang mengira Toko Pak Mul baru muncul belakangan. Padahal, usaha itu sudah berdiri cukup lama.

Chandra menjelaskan, Toko Pak Mul mulai beroperasi sekitar 2006 ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, toko tersebut dikelola langsung oleh sang ayah, Mulyadi.

“Kalau dari Pak Mul itu dari 2006-an lah. Pas aku masih SD,” kata Chandra.

Namun, perjalanan toko tersebut sempat berhenti. Sekitar 2017, Mulyadi mengalami stroke sehingga usaha tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

Setelah Mulyadi meninggal pada 2022, toko juga kembali tutup.

Chandra kemudian sempat bekerja di tempat lain. Setelah memutuskan berhenti bekerja dan pindah ke kawasan Debegan karena rumah sebelumnya dijual, ia akhirnya memutuskan menghidupkan kembali usaha yang pernah dirintis ayahnya.

Pada 2025, Toko Pak Mul kembali dibuka.

“Daripada nganggur, ya sudah aku buka,” ucapnya.

Barang yang dijual pun tidak jauh berbeda dari toko kelontong pada umumnya. Mulai dari rokok, makanan ringan, minuman, sampai berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di sana.

Bukan Sumber Penghasilan Utama Keluarga

Meski kembali membuka usaha keluarga, Chandra mengungkapkan Toko Pak Mul bukan sumber penghasilan utama keluarganya.

Suaminya masih bekerja sehingga ia lebih fleksibel dalam menentukan kapan toko akan dibuka atau ditutup.

“Cuman emang bukan penghasilan utama gitu. Kan suami itu kerja, jadi kayak buka ya sudah sak senengku sak mood-ku (sesukaku dan semauku),” ungkapnya.

Sebelum mural dibuat, bagian depan toko sebenarnya sudah memiliki banner bertuliskan Toko Pak Mul. Namun, Chandra tidak tertarik menggunakan banner dari pihak lain yang menawarkan kerja sama dengan sistem kontrak.

Ia juga sempat mengalami kejadian ketika banner toko ditarik-tarik anak-anak yang lewat di depannya.

Daripada terus repot dengan banner, akhirnya nama toko ditulis langsung di tembok. Nama Toko Pak Mul pun tetap dipertahankan karena sudah dikenal oleh para sales dan memang merupakan nama yang digunakan sejak usaha tersebut pertama kali dirintis sang ayah.

Viralnya Toko Pak Mul akhirnya bukan cuma soal sebuah kalimat unik di dinding toko. Di balik tulisan yang terdengar receh dan bikin netizen ketawa, ada kisah tentang usaha keluarga yang sempat berhenti, kemudian dihidupkan kembali oleh anaknya.

Kini, mural “Jika Tutup Berarti Lagi Bad Mood” justru menjadi identitas baru yang membuat Toko Pak Mul dikenal lebih luas. Dan kalau suatu saat kamu mampir ke Solo lalu mendapati tokonya sedang tutup, mungkin jawabannya memang sesimpel tulisan di tembok: lagi bad mood.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

Viral Dugaan Pelecehan di KRL Jakarta Kota-Nambo, Terduga Pelaku Diamankan di Stasiun Lenteng Agung

Perjalanan pulang dengan KRL pada Senin malam, 28 September 2026, mendadak berubah menjadi situasi yang bikin penumpang geger. Seorang...

More Articles Like This

Favorite Post