Saturday, January 3, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Sabtu 22 November 2025 Lukas 20:27-40 dan Renungan Harian Katolik, Hari Sabtu XXXIII

Must Read
3.7/5 - (3 votes)

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 22 November 2025.

Kalender Liturgi hari Sabtu 22 November 2025 merupakan Hari Sabtu XXXIII, Peringatan Wajib Santa Sesilia Perawan dan Martir, Santo Filemon Rekan Sekerja Santo Paulus Martir, dengan Warna Liturgi Merah.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 22 November 2025:

Bacaan Pertama: 1Mak. 6:1-13

Dalam pada itu raja Antiokhus menjelajahi wilayah pegunungan. Didengarnya kabar bahwa Elimais, sebuah kota di negeri Persia, adalah termasyhur karena kekayaan perak dan emas

dan lagi bahwa kuil di kota itu sangat kaya pula oleh karena di sana ada alat-alat perang emas, lemena serta senjata yang ditinggalkan Aleksander bin Filipus, raja Makedonia, yang mula-mula merajai orang-orang Yunani.

Maka datanglah ia ke sana dan berusaha merebut kota itu serta menjarahinya. Tetapi ia tidak berhasil oleh karena maksudnya ketahuan oleh penduduk kota itu.

Mereka memberikan perlawanan kepada raja, sehingga ia lari serta berangkat dari situ dengan sesal hati yang besar hendak kembali ke Babel.

Kemudian datanglah seseorang ke daerah Persia memberitahu raja bahwa bala tentaranya yang memasuki negeri Yudea sudah dipukul mundur

dan khususnya bahwa Lisias yang maju perang dengan bala tentara yang kuat telah dipukul mundur oleh orang-orang Yahudi yang bertambah kuat karena senjata,

pasukan dan banyak barang rampasan yang diperoleh mereka dengan diambil dari tentara yang telah mereka kalahkan.

Orang-orang Yahudi juga telah membongkar Kekejian yang telah ditegakkan raja di atas mezbah di Yerusalem. Bait Suci telah dipagari oleh mereka dengan tembok-tembok yang tinggi seperti dahulu dan demikianpun halnya dengan Bet-Zur, salah satu kota raja.

Mendengar berita itu maka tercenganglah raja dan sangat tergeraklah hatinya. Ia merebahkan diri di ranjang dan jatuh sakit karena sakit hati. Sebab semuanya tidak terjadi sebagaimana diinginkannya.

Berhari-hari raja berbaring di ranjangnya sedang terus-menerus dihinggapi kemurungan besar. Ketika merasa akan meninggal

dipanggilnya semua sahabatnya lalu dikatakannya kepada mereka: “Tidur sudah lenyap dari mataku dan hatiku hancur karena kemasygulan.

Maka dalam hati aku berkata: Kepada keimpitan dan kemalangan manakah aku sampai sekarang ini? Aku ini yang murah hati dan tercinta dalam kekuasaanku!

Tetapi teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang.

Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19

aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi,

sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu.

Sebab Engkau membela perkaraku dan hakku, sebagai Hakim yang adil Engkau duduk di atas takhta.

musuh telah habis binasa, menjadi timbunan puing senantiasa: kota-kota telah Kauruntuhkan; lenyaplah ingatan kepadanya.

TUHAN telah memperkenalkan diri-Nya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon. Sela

Bangkitlah, TUHAN, janganlah manusia merajalela; biarlah bangsa-bangsa dihakimi di hadapan-Mu!

Bait Pengantar Injil: 2 Timotius 1:10b

Ref. Alleluya, alleluya.

Juruselamat kita Yesus Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Bacaan Injil: Lukas 20:27-40

Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.

Pada suatu ketika datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, Musa menulis untuk kita perintah ini:

Jika seorang yang mempunyai saudara laki-laki mati meninggalkan isteri tetapi tidak meninggalkan anak, maka saudaranya harus kawin dengan wanita itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya. Ada tujuh orang bersaudara.

Yang pertama kawin dengan seorang wanita lalu mati tanpa meninggalkan anak. Lalu wanita itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga, dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu.

Mereka semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya wanita itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan wanita itu? Siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan?

Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” Berkatalah Yesus kepada mereka, “Orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan tidak dikawinkan.

Sebab mereka tidak dapat mati lagi. Mereka sama dengan malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.

Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup.”

Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Maka mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Sabtu 22 November 2025

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita mendengar dua kisah yang tampaknya jauh, tetapi sesungguhnya berbicara tentang hal yang sama: bagaimana manusia memahami hidup, dan apa yang dipegang sebagai dasar harapan. Dari Bacaan Pertama, kita melihat Raja Antiokhus yang perkasa itu terbaring tak berdaya. Seorang raja yang dulu menakutkan, kini runtuh bukan karena pedang, tetapi karena hatinya sendiri. Ketika segala rencana, kekuasaan, dan ambisinya berantakan, ia baru menyadari: ia telah membangun hidupnya di atas hal yang salah. Ia mengejar emas, kuasa, kejayaan, bahkan tidak ragu menindas Yerusalem dan memporak-porandakan Bait Allah. Tetapi di ujung hidup, ia melihat semuanya kosong. Yang tersisa hanyalah penyesalan.

Ada bagian dari kisah itu yang begitu manusiawi. Kita pun sering, tanpa sadar, menaruh hidup pada hal-hal yang kita kira akan membuat kita aman: uang, posisi, pencapaian, penilaian orang, citra diri, rencana-rencana besar yang kita genggam erat. Kita merasa kuat selama semuanya berjalan sesuai keinginan. Tetapi ketika sesuatu runtuh—sakit, masalah keluarga, kegagalan, penolakan—kita sering panik, marah, atau hancur hati. Kisah Antiokhus hari ini mengingatkan kita: bukan kekuasaan yang membuat hidup kokoh, tetapi apa yang kita imani sebagai dasar hidup itu sendiri.

Lalu Injil hari ini membawa kita masuk lebih dalam lagi. Orang-orang Saduki datang kepada Yesus bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menjebak. Mereka tidak percaya akan kebangkitan, sehingga mereka membuat skenario rumit tentang seorang perempuan yang menikah dengan tujuh saudara. Mereka tidak sedang bertanya demi iman, tetapi demi membuktikan bahwa hidup ini hanya sebatas dunia ini.

Yesus tidak terpancing pada kerumitan logika mereka. Ia mengajak mereka melihat inti iman: bahwa Tuhan adalah Allah orang hidup. Bahwa yang menentukan bukan bagaimana kita menghitung kehidupan, tetapi kepada siapa kita mempercayakan kehidupan itu. Yesus menegaskan bahwa hidup kita tidak berakhir pada kematian, bahwa kita dipanggil kepada kehidupan yang lebih penuh, kehidupan yang tidak lagi diukur oleh aturan atau struktur dunia, termasuk soal perkawinan. Dalam kebangkitan, kita menjadi milik Allah sepenuhnya.

Saudara-saudari, betapa sering kita hidup seperti kaum Saduki: sibuk memperdebatkan hal-hal kecil, terjebak pada ketakutan, pada logika dunia yang hanya mengandalkan apa yang bisa dihitung dan dilihat. Kita lupa bahwa Tuhan memandang hidup dengan cara lain. Ia tidak memandang kita dari seberapa banyak yang kita capai, tetapi dari relasi: apakah kita hidup bersama Dia, mempercayakan diri kepada-Nya, dan mengizinkan-Nya menghidupkan kita.

Di sini kita melihat hubungan mendalam dengan Bacaan Pertama. Antiokhus jatuh bukan karena kurang kuat, tetapi karena seluruh dasarnya salah. Ia hidup seakan-akan tidak ada kehidupan setelah kematian; seakan-akan dunia ini satu-satunya panggung. Sementara Yesus hari ini mengingatkan: kita adalah anak-anak Allah, dan karena itu hidup kita tidak berakhir pada batas-batas dunia. Ketika kita percaya akan Allah orang hidup, kita memiliki dasar yang tidak dapat runtuh oleh kegagalan, sakit, penolakan, atau kehilangan.

Hari ini kita juga merayakan Santa Sesilia, seorang perempuan muda yang berani mempertaruhkan hidup demi imannya. Ia tidak hidup panjang, tidak punya kekuasaan, tidak punya harta. Namun ia hidup teguh di hadapan Tuhan yang hidup. Dan justru karena itu, hidupnya bersinar melampaui kematian. Ia menjadi saksi bahwa iman yang benar membuat manusia lebih hidup, bukan lebih takut.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering dihadapkan pada pilihan: apakah kita mau hidup hanya dengan kacamata dunia, atau dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai dan menghidupkan kita? Apakah kita menaruh harapan kita pada hal yang bisa lenyap seperti Antiokhus, atau pada Tuhan yang menyebut diri-Nya Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub — Allah orang hidup?

Semoga hari ini kita berani bertanya kepada diri sendiri: apa yang sungguh-sungguh menjadi dasar hidupku? Apakah aku hidup dengan ketakutan seperti Saduki yang menolak kebangkitan? Ataukah aku hidup dengan iman yang membuatku bebas, kuat, dan penuh harapan seperti Santa Sesilia?

Tuhan yang hidup menyertai kita, bukan hanya dalam keberhasilan tetapi juga dalam jatuh dan luka kita. Dan bila Dia adalah Allah orang hidup, maka setiap langkah, setiap keputusan, setiap pergumulan kita pun dapat menjadi tempat di mana kehidupan baru itu tumbuh. Amin.

Doa Penutup

Tuhan Allah yang hidup, bimbing aku agar tidak menggantungkan hidup pada hal yang fana. Teguhkan imanku supaya aku selalu percaya pada penyertaan-Mu, berjalan dalam harapan, dan memilih apa yang benar. Jadikan hatiku sederhana, setia, dan penuh keberanian seperti para kudus-Mu. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Senin, 5 Januari 2026 dan Renungan Harian Katolik, Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post