Belakangan ini kasus pelecehan seksual makin sering jadi perbincangan. Ada yang berani speak up, terus muncul deh korban-korban lain ikut cerita. Tapi, masih ada aja nih orang yang nanya nyebelin:
“Kalau dilecehkan, kenapa gak lawan sih?”
Sebelum kita nyalahin korban, ada baiknya lo ngerti dulu apa yang sebenernya terjadi di tubuh mereka. Spoiler alert: tubuh manusia punya mekanisme super unik yang bikin kita kadang bener-bener gak bisa gerak, dan itu bukan berarti mereka lemah atau takut doang.
Tonic Immobility: Tubuh Lo Bisa ‘Freeze’ Kayak Video Game
Banyak korban pelecehan ngalamin yang namanya tonic immobility. Ini reaksi biologis alami tubuh kita saat diancam ekstrem.
Bayangin kayak hewan yang pura-pura mati kalau ketemu predator. Tubuh korban bisa membeku, kaku, bahkan gak bisa ngomong, karena otak mikir lawan atau kabur malah bikin situasi makin beresiko.
Jadi kalau lo liat korban “diam aja”, jangan mikir mereka gak berani. Secara biologis mereka emang gak bisa ngegerakkin badan atau bersuara saat itu.
Kekerasan Seksual Itu Apa Sih, Bro?
Sebelum makin jauh, kita harus ngerti dulu definisinya. Kekerasan seksual itu semua tindakan yang merendahkan, melecehkan, atau menyerang tubuh/fungsi reproduksi orang lain tanpa izin.
Contohnya banyak banget:
- Ujaran seksis atau komentar cabul
- Sentuhan tanpa persetujuan
- Ngirim konten seksual tanpa izin
- Penguntitan
- Memaksa buka baju atau aktivitas seksual
- Pokoknya segala hal yang bikin orang lain tersiksa secara fisik atau mental
Yang serem, ini bisa terjadi di mana aja, sama siapa aja, tanpa pandang umur atau gender.
Respons Tubuh Korban: Dari Fight, Flight, Sampai Freeze
Tubuh manusia punya empat fase alami saat terancam ekstrem:
- Arousal → sadar ada bahaya
- Fight or Flight → siap lawan atau kabur
- Freeze → membeku sementara
- Tonic Immobility / Collapsed Immobility → tubuh lumpuh, bahkan bisa pingsan
- Quiescent Immobility → fase diam & pemulihan
Kalau otak mikir lawan atau kabur justru makin bahaya, tubuh bakal pilih freeze otomatis.
Kata Dokter dan Psikolog
Menurut dr. Gina Anindyajati, SpKJ, otak manusia punya tiga respons alami saat terancam:
- Fight → lawan
- Flight → kabur
- Freeze → membeku
“Gak semua orang bisa fight, flight, atau freeze. Itu tergantung situasi dan kondisi,” katanya.
Psikolog Jane Mariem Monepa bilang, korban sering kebawa konflik batin:
“Kenapa gue gak bisa lawan? Kenapa gue harus ngalamin ini?”
Ditambah stigma sosial dan sistem hukum yang ribet, trauma mereka bisa makin parah.
Fakta Menyedihkan: Banyak Korban Gak Laporkan
Data 2021: hampir 80% korban kekerasan seksual gak lapor polisi. Kenapa?
- Takut dicap negatif
- Gak percaya aparat
- Ngerasa kejadian itu “gak penting”
Di Indonesia, hukum juga masih kurang berpihak. KUHP punya definisi terbatas soal kekerasan seksual, dan seringnya korban yang harus buktiin sendiri.
Cara Bantu Korban Pulih
Pemulihan trauma gak gampang, tapi bisa dibantu lewat:
- Terapi perilaku kognitif → belajar atur pikiran & perasaan
- Prolonged exposure → menghadapi trauma secara bertahap
- EMDR → teknik terapi khusus trauma
- Self-care → tidur cukup, makan sehat, bangun hubungan sosial
- Support system → dukungan keluarga, temen, atau komunitas
Intinya, kekerasan seksual bukan cuma masalah individu, tapi tanggung jawab kita semua. Edukasi, empati, dan sistem yang adil bisa bikin dunia lebih aman.
Gengs, tonic immobility itu reaksi alami tubuh, bukan tanda kelemahan. Jadi stop nyalahin korban dan mulai jadi pendukung mereka. Dengan paham hal ini, kita bisa bikin lingkungan yang lebih aman dan empati.
Ingat: lawan pelecehan itu bukan cuma soal fisik, tapi soal mental, hukum, dan sosial. Mari kita dukung korban, jangan menjudge mereka!
