Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 4 Mei 2026.
Kalender Liturgi hari Senin 4 Mei 2026 adalah Hari Biasa Pekan V Paskah dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 4 Mei 2026:
Bacaan I: Kis. 14:5-18
Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu.
Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil. Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan.
Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.
Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.”
Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara. Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru:
“Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.”
Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, namun hampir-hampir tidak dapat mereka mencegah orang banyak mempersembahkan korban kepada mereka.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah
Mazmur Tanggapan: Mzm. 115:1-2, 3-4,15-16
- Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: “Di mana Allah mereka?”
- Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, Diberkatilah kamu oleh TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
- Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia.
Bacaan Injil: Yohanes 14:21-26
“Penghibur yang akan diutus oleh Bapa, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu.”
Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku padanya.”
Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apakah sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.
Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya, dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 4 Mei 2026
Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengar kata-kata Yesus yang begitu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam: “Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.” Di sini Yesus tidak berbicara tentang perasaan yang indah atau kata-kata manis tentang cinta. Ia berbicara tentang sesuatu yang konkret, sesuatu yang nyata dalam hidup sehari-hari: ketaatan.
Kasih kepada Tuhan ternyata bukan pertama-tama soal emosi, melainkan soal pilihan. Pilihan untuk tetap jujur saat ada kesempatan untuk curang. Pilihan untuk tetap sabar saat hati sedang panas. Pilihan untuk tetap berbuat baik bahkan ketika tidak dihargai. Di situlah kasih kepada Tuhan menjadi hidup, bukan sekadar wacana.
Sering kali kita merasa Tuhan itu jauh, seakan-akan tidak hadir dalam pergumulan hidup kita. Padahal Yesus mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan: “Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Artinya, Tuhan tidak tinggal jauh di surga saja. Ia mau tinggal dalam hati manusia. Namun, ada satu “pintu” yang harus dibuka: ketaatan pada firman-Nya.
Kita mungkin bertanya seperti Yudas: mengapa Tuhan tidak menyatakan diri-Nya secara jelas kepada semua orang? Mengapa tidak dengan cara yang spektakuler? Jawabannya ternyata sangat manusiawi. Tuhan tidak memaksa. Ia tidak masuk dengan kekuatan, tetapi dengan relasi. Ia hadir secara pribadi bagi mereka yang membuka hati dan mau hidup menurut sabda-Nya.
Bacaan pertama memberi gambaran nyata bagaimana manusia mudah salah arah. Ketika melihat mukjizat, orang banyak malah menganggap Paulus dan Barnabas sebagai dewa. Ini juga terjadi dalam hidup kita sekarang. Kita mudah mengagungkan hal-hal yang terlihat hebat: jabatan, uang, popularitas, bahkan manusia tertentu, seolah-olah itu sumber keselamatan. Padahal semua itu bukan Tuhan.
Paulus dan Barnabas dengan tegas menolak disembah. Mereka mengingatkan bahwa mereka hanyalah manusia biasa. Ini menjadi cermin bagi kita: apakah kita masih memberi tempat utama bagi Tuhan dalam hidup, atau justru menggantinya dengan “berhala-berhala modern” yang kita bangun sendiri?
Yesus kemudian menjanjikan Roh Kudus, Sang Penghibur. Ini sangat relevan bagi hidup kita sekarang yang penuh kebingungan dan tekanan. Roh Kudus bukan sekadar konsep, tetapi kehadiran nyata yang menuntun hati kita untuk mengerti mana yang benar, menguatkan saat kita lemah, dan mengingatkan kita akan kebenaran ketika kita mulai tersesat.
Namun, Roh Kudus bekerja dalam hati yang mau mendengarkan. Dalam keheningan, dalam doa yang sederhana, dalam niat baik yang kita perjuangkan setiap hari. Di sanalah Tuhan berbicara, pelan tetapi nyata.
Saudara-saudari, iman bukan soal melakukan hal besar sesekali, tetapi kesetiaan dalam hal kecil setiap hari. Mengasihi Tuhan berarti berani hidup berbeda, berani setia, berani tetap berjalan di jalan yang benar meskipun tidak mudah. Dan justru di situlah kita mengalami bahwa Tuhan sungguh tinggal dalam hidup kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajar kami mengasihi-Mu dengan nyata dalam tindakan sehari-hari. Tinggallah dalam hati kami agar kami setia melakukan kehendak-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing, menguatkan, dan mengingatkan kami saat lemah. Jadikan hidup kami sederhana, tulus, dan berani bersaksi tentang kasih-Mu di tengah dunia saat ini. Amin.
