Buku Broken Strings mendadak jadi bahan omongan di mana-mana. Bukan karena drama settingan atau cerita lebay, tapi karena isinya jujur, mentah, dan dekat sama realita banyak orang, khususnya anak muda.
Buku ini ditulis langsung oleh Aurelie Moeremans dan dibagikan gratis, bikin banyak orang ngerasa “gue nggak sendirian”.
Nah, biar makin kebayang kenapa buku ini bisa seviral itu, ini dia 6 poin penting tentang Broken Strings yang bikin publik langsung tersentil.
1. Ini Curhat Nyata, Bukan Cerita Karangan
Pertama-tama, Broken Strings bukan novel cinta atau cerita fiksi manis-manis. Buku ini adalah memoar pribadi, alias kisah hidup Aurelie yang ditulis dari sudut pandangnya sendiri. Isinya refleksi dan kesaksian tentang apa yang pernah dia alami, tanpa embel-embel drama buatan.
Karena bentuknya memoar, ceritanya memang subjektif, sesuai ingatan dan pengalaman penulis. Justru di situlah letak kejujurannya.
2. Bahas Relasi Nggak Sehat, Grooming, dan Luka Batin
Topik utama yang diangkat cukup berat, tapi penting: grooming, manipulasi emosional, dan trauma psikologis. Aurelie menceritakan pengalaman berada dalam hubungan yang timpang saat dirinya masih berada di fase rentan.
Yang bikin buku ini beda, ceritanya nggak mengglorifikasi kejadian pahit itu. Semuanya ditulis sebagai luka yang punya efek panjang ke kondisi mental dan emosional seseorang.
3. Identitas Tokoh Lain Dibikin Samar
Di dalam bukunya, Aurelie nggak asal sebut nama. Semua tokoh lain disamarkan identitasnya. Ini dilakukan buat menjaga privasi dan menghindari tudingan langsung ke individu tertentu.
Langkah ini juga nunjukin kalau buku ini bukan ajang tuduh-menuduh, tapi lebih ke cerita pengalaman personal yang dibagikan dengan tanggung jawab.
4. Dibagikan Gratis, Nggak Pake Ribet
Salah satu alasan kenapa Broken Strings bisa nyebar super cepat adalah karena dirilis gratis lewat link resmi. Nggak perlu beli, nggak ada paywall.
Keputusan ini diambil biar pesannya bisa sampai ke lebih banyak orang, terutama anak muda dan para penyintas yang mungkin nggak punya akses buat beli buku berbayar.
5. Reaksi Netizen: Campur Aduk Tapi Hidup
Respons dari netizen rame banget. Banyak yang kasih dukungan, empati, bahkan bilang kalau pengalaman mereka ngerasa kewakilin lewat buku ini.
Tapi ada juga diskusi kritis soal batas antara memoar dan konsumsi publik, termasuk risiko salah tafsir. Dan itu wajar banget, karena karya personal yang sensitif memang sering memancing banyak sudut pandang.
6. Jadi Pemantik Obrolan soal Grooming dan Relasi Timpang
Mau pro atau kontra, satu hal yang jelas: Broken Strings sukses ngebuka obrolan publik soal grooming, hubungan yang nggak seimbang, dan pentingnya melek emosional.
Buku ini sering dipakai sebagai pintu masuk diskusi, bukan sebagai bukti hukum, tentang gimana manipulasi bisa terjadi tanpa kekerasan fisik dan kenapa banyak korban baru sadar setelah waktu berlalu lama.
Broken Strings meledak di publik bukan karena gimmick, tapi karena keberanian buat jujur tentang hal yang sering dianggap tabu. Dengan format memoar, identitas yang disamarkan, dan akses gratis, buku ini punya dampak sosial yang nyata.
Tapi tetap, membacanya perlu kepala dingin, empati, dan sikap kritis. Karena setiap cerita personal di ruang publik selalu butuh konteks, bukan cuma reaksi.
