Pernah nggak sih tiba-tiba keinget momen yang rasanya nyata banget—padahal setelah dipikir ulang, itu nggak pernah kejadian sama sekali? Nah, perasaan aneh tapi relate itu belakangan rame banget dibahas di media sosial.
Semua bermula dari satu kalimat berbahasa Inggris yang sering nongol di TikTok, X, dan Instagram:
“I keep recalling things I never did.”
Kalimat ini dipakai buat caption galau, sindiran halus, sampai background sound konten overthinking tengah malam. Sekilas terdengar seperti curhatan random, tapi ternyata kalimat ini punya asal-usul yang cukup serius—dan emosional.
Buat kamu yang ngikutin dunia pop music, terutama Taylor Swift, kalimat ini bukan barang asing. Ungkapan tersebut merujuk pada lagu “Guilty as Sin?”, salah satu track yang paling banyak dibicarakan dari album The Tortured Poets Department yang rilis April 2024.
Lagu ini langsung jadi bahan diskusi karena liriknya terasa jujur, raw, dan terlalu dekat dengan realita perasaan banyak orang—terutama soal cinta yang cuma hidup di kepala.
Sedikit Klarifikasi: “I” atau “We”?
Menariknya, di media sosial banyak orang menuliskan kalimat ini dengan versi “I keep recalling things I never did”.
Padahal di lirik resminya, yang dinyanyikan Taylor adalah:
“I keep recalling things we never did.”
Cuma beda satu kata—I jadi we—tapi efek emosinya tetap sama. Bahkan mungkin lebih dalam. Kata we bikin seolah-olah ada dua orang dalam cerita itu, meski kenyataannya… ya, semuanya cuma ada di pikiran.
Artinya Apa Sih, Sebenarnya?
Kalau diterjemahkan secara sederhana ke Bahasa Indonesia, maknanya kurang lebih:
“Aku terus mengingat hal-hal yang sebenarnya tidak pernah kami lakukan.”
Kuncinya ada di frasa “keep recalling”. Ini bukan sekadar membayangkan sekali dua kali, tapi terus-terusan terulang. Seperti replay otomatis di otak yang nggak bisa dimatiin.
Lama-lama, imajinasi itu terasa seperti memori sungguhan. Padahal faktanya, itu nggak pernah terjadi di dunia nyata.
Kenangan Palsu, Rindu, dan Sedikit Halu
Di dalam lagu Guilty as Sin?, Taylor Swift menggambarkan konflik batin seseorang yang terjebak dalam fantasi emosional. Bukan perselingkuhan fisik, tapi perselingkuhan di kepala sendiri.
Bayangin:
- Percakapan yang nggak pernah terjadi
- Momen romantis yang cuma hidup di imajinasi
- Kedekatan emosional yang terasa nyata, padahal hubungan aslinya nggak sejauh itu
Semua itu bikin tokohnya merasa bersalah. Bukan karena melakukan sesuatu, tapi karena merasakan sesuatu terlalu dalam.
Itulah kenapa kalimat ini kena banget di hati banyak orang. Ia mewakili kondisi:
- Rindu yang kebablasan
- Ekspektasi yang terlalu hidup
- Perasaan “kok rasanya pernah, ya?” padahal nggak
Kenapa Warganet Indonesia Relate Banget?
Karena jujur aja—siapa sih yang belum pernah:
- Overthinking hubungan yang nggak jelas
- Mengingat versi “andai” dari sebuah cerita
- Menyimpan skenario cinta alternatif di kepala sendiri
Kalimat ini jadi semacam pengakuan diam-diam:
bahwa kadang, yang paling menyakitkan bukan yang terjadi, tapi yang cuma hampir terjadi.
Kalimat viral “I keep recalling things I never did” (atau versi aslinya “things we never did”) menggambarkan seseorang yang terjebak dalam kenangan palsu—kenangan yang lahir dari fantasi, rindu, dan harapan yang terlalu sering diputar ulang di kepala.
Semua terasa nyata, emosinya ada, tapi realitanya kosong. Dan justru di situlah konflik batinnya muncul.
Relate? Tenang. Kamu nggak sendirian. 🌙
