Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Jumat 5 Desember 2025.
Kalender Liturgi hari Jumat 5 Desember 2025 merupakan Hari Jumat Biasa Pekan I Adven, Santo Sabas Abbas dan Pengaku Iman, Santo Reinardus Uskup dan Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Jumat 5 Desember 2025:
Bacaan Pertama: Yesaya 29:17-24
“Pada waktu itu orang-orang buta akan melihat.”
Beginilah firman Tuhan, “Tiada lama lagi Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan. Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar sabda sebuah kitab, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan.
Orang-orang sengsara akan bersukaria dalam Tuhan dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorai di dalam Yang Mahakudus Allah Israel. Sebab orang yang gagah sombong akan lenyap dan orang pencemooh akan habis.
Semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, yang memasang jerat terhadap orang yang menegur mereka di pintu gerbang, dan yang menyalahkan orang benar dengan alasan yang dibuat-buat.
Sebab itu beginilah firman Tuhan, Allah kaum keturunan Yakub, yang telah membebaskan Abraham, “Mulai sekarang Yakub takkan lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat. Sebab keturunan Yakub akan melihat karya tangan-Ku di tengah-tengah mereka, dan mereka akan menguduskan nama-Ku.
Mereka akan menguduskan Yang Kudus Allah, dan mereka akan gentar terhadap Allah Israel. Pada waktu itu orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan mereka yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1.4.13-14
Ref. Tuhan adalah terang dan keselamatanku
atau Tuhan, Dikaulah penyelamatku.
Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Tuhan pasti datang; Ia datang dengan megah, dan mata para hamba-Nya akan berseri-seri.
Bacaan Injil: Matius 9:27-31
“Dua orang buta disembuhkan karena percaya kepada Yesus.”
Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya.
Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu.”
Maka meleklah mata mereka. Lalu dengan tegas Yesus berpesan kepada mereka, “Jagalah, jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Jumat 5 Desember 2025
Adven selalu membawa kita pada kerinduan: kerinduan akan terang, akan pemulihan, akan Tuhan yang datang menyembuhkan bagian diri kita yang gelap. Bacaan hari ini menuntun kita masuk ke dalam harapan itu. Nabi Yesaya berbicara tentang masa ketika yang buta akan melihat dan yang tuli akan mendengar, ketika tanah yang gersang berubah menjadi kebun yang hidup, ketika mereka yang miskin dan tertindas akhirnya bersukacita dalam Tuhan. Gambaran itu bukan sekadar puitis—itu janji bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika hidup terasa buntu, bahkan saat dunia tampak keras dan orang-orang yang jahat seolah lebih berkuasa.
Yesaya berbicara kepada bangsa Israel yang putus asa, bangsa yang lelah oleh kesalahan sendiri, oleh penindasan, oleh kekecewaan. Namun justru kepada mereka Tuhan berjanji: akan ada terang, akan ada pemulihan, akan ada pengertian bagi mereka yang selama ini seperti tersesat. Dan di tengah janji itu ada satu hal yang indah: “karya tangan-Ku akan terlihat di tengah-tengah mereka.” Bukan karena mereka kuat, bukan karena mereka hebat, tetapi karena Tuhan setia. Di sini Adven berbicara lembut kepada kita: jangan takut. Meski kita berada dalam masa yang gelap, Tuhan sedang bekerja di hal-hal kecil yang mungkin kita tak sadari. Tidak ada luka yang terlalu dalam, tidak ada masa lalu yang terlalu kacau, tidak ada hati yang terlalu jauh untuk dijamah-Nya.
Lalu Injil mengajak kita melihat dua orang buta yang mengikuti Yesus. Bukan mudah bagi mereka untuk mengikut Yesus—mereka tidak bisa melihat, tidak tahu arah, tidak bisa memastikan langkah mereka. Namun mereka tetap berjalan, tetap mengikuti suara, tetap berharap. Dan yang paling menyentuh, mereka berseru bukan dengan tuntutan, tetapi dengan kerendahan hati: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!”
Ketika Yesus akhirnya bertanya kepada mereka, “Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?”, Ia sesungguhnya bertanya juga kepada kita hari ini. Percayakah kita bahwa Ia masih bisa menyembuhkan hidup kita? Percayakah kita bahwa Ia mampu membuka mata kita untuk melihat apa yang selama ini gelap? Percayakah kita bahwa Ia sanggup memulihkan hubungan, membuka jalan di tengah buntu, menyalakan harapan dalam kelelahan kita?
Dua orang buta itu menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Bukan karena mereka sudah melihat hasilnya, tetapi karena mereka percaya pada Pribadi yang mereka dekati. Itulah iman: berjalan dalam gelap sambil tetap menggenggam tangan Tuhan.
Dan ketika Yesus menjamah mata mereka, Ia mengatakan sesuatu yang sangat manusiawi dan sangat mendalam: “Terjadilah padamu menurut imanmu.” Iman mereka membuka pintu bagi mukjizat. Dan mata mereka pun melek. Tetapi yang menarik adalah pesan Yesus selanjutnya: “Jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Seolah Yesus ingin mengatakan, mukjizat terbesar bukanlah sensasi, bukan cerita yang memamerkan kehebatan, melainkan hati yang berubah dan hidup yang semakin dekat kepada Allah.
Saudara-saudari terkasih, Adven mengajak kita untuk berhenti sejenak dan jujur: pada bagian mana dari hidup kita kita masih buta? Buta untuk melihat kebaikan orang lain? Buta untuk melihat betapa Tuhan masih menyertai kita? Buta karena luka, karena kecewa, karena lelah, karena terlalu sibuk atau terlalu takut?
Dan juga, pada suara apa kita menjadi tuli? Tuli terhadap suara kebenaran? Tuli terhadap panggilan untuk berubah? Tuli terhadap jeritan orang yang membutuhkan belas kasih kita?
Yesaya menubuatkan bahwa “yang buta akan melihat” dan Injil menunjukkan itu terjadi dalam diri dua orang sederhana yang percaya. Hari ini janji itu juga datang kepada kita. Mungkin kita belum melihat jalan kita dengan jelas. Mungkin kita merasa masih meraba-raba. Tetapi Tuhan tidak meminta kita langsung melihat terang dengan sempurna—Ia hanya meminta kita tetap berjalan, tetap percaya, tetap mengikuti suara-Nya, seperti dua orang buta itu mengikuti langkah-Nya.
Semoga masa Adven ini menjadi saat di mana kita membuka ruang bagi Tuhan untuk menyentuh bagian hidup kita yang gelap, agar kita bisa melihat lagi—melihat dengan mata iman, mata harapan, mata kasih. Dan semoga ketika terang itu mulai tampak, kita pun menjadi pembawa terang bagi sesama, dengan cara yang sederhana: dengan belas kasih, dengan kesetiaan, dengan kejujuran, dan dengan hati yang terbuka.
Tuhan datang, dan mata para hamba-Nya akan berseri-seri. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, buka mata hatiku agar aku melihat kebaikan-Mu dalam hidup sehari-hari. Sembuhkanlah bagian diriku yang gelap dan lemah. Teguhkan imanku supaya aku tetap berharap, berjalan bersama-Mu, dan menjadi terang bagi sesama. Amin.
