Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Kamis 29 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Kamis 29 Januari 2026 merupakan Hari Kamis Biasa III, Santo Gildas Yang Bijaksana, Pengaku Iman, Beato Joseph Freinademetz, Imam, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Kamis 29 Januari 2026:
Bacaan Pertama 2Sam. 7:18-19,24-29
Lalu masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN sambil berkata: “Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?
Dan hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang, ya Tuhan ALLAH.
Engkau telah mengokohkan bagi-Mu umat-Mu Israel menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya, dan Engkau, ya TUHAN, menjadi Allah mereka. Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu.
Maka nama-Mu akan menjadi besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam ialah Allah atas Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu.
Sebab Engkau, TUHAN semesta alam, Allah Israel, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, demikian: Aku akan membangun keturunan bagimu. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ini kepada-Mu.
Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 132:1-2,3-5,11,12,13-14
Nyanyian ziarah. Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, bagaimana ia telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub:
“Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.”
TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: “Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu;
jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu.”
Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: “Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:105
Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku,dan cahaya bagi jalanku.
Bacaan Injil: Mrk 4:21-25
Pelita dipasang untuk ditaruh di atas kaki dian. Ukuran yang kamu pakai akan dikenakan pula padamu.
Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,”Orang memasang pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Lalu Ia berkata lagi, “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan dikenakan pula padamu; dan malah akan ditambah lagi! Karena siapa yang mempunyai, akan diberi lagi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis 29 Januari 2026
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita diajak masuk ke dalam sikap batin yang sangat indah: kerendahan hati dan kesadaran diri di hadapan Allah. Dalam Bacaan Pertama, Raja Daud duduk diam di hadapan Tuhan dan berkata, “Siapakah aku ini?” Kalimat ini bukan basa-basi rohani, melainkan lahir dari hati yang sungguh mengenal dirinya. Daud menyadari bahwa semua yang ia miliki—kedudukan, keberhasilan, masa depan keturunannya—bukan hasil kehebatannya sendiri, melainkan murni anugerah Allah yang setia.
Sikap Daud ini sangat relevan bagi hidup kita sekarang. Di zaman yang menekankan prestasi, pencapaian, dan pengakuan, kita mudah lupa bahwa hidup ini berdiri di atas rahmat. Ketika berhasil, kita tergoda merasa paling mampu. Ketika gagal, kita merasa ditinggalkan. Padahal Daud mengajarkan bahwa iman justru bertumbuh ketika kita berani duduk di hadapan Tuhan dengan jujur, mengakui keterbatasan, sekaligus mempercayai kesetiaan-Nya. Tuhan yang sama yang memulai karya baik dalam hidup kita adalah Tuhan yang sanggup menyempurnakannya.
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang pelita yang tidak diletakkan di bawah gantang. Terang tidak diciptakan untuk disembunyikan. Terang ada untuk menerangi. Ini bukan sekadar ajakan untuk tampil atau menonjol, melainkan panggilan untuk hidup otentik. Iman yang kita terima bukan untuk disimpan sebagai milik pribadi, tetapi untuk dihidupi dan dibagikan melalui sikap, kata, dan pilihan hidup sehari-hari. Terang itu bisa berupa kejujuran di tengah budaya manipulasi, kesetiaan di tengah godaan, atau kepedulian di tengah sikap acuh tak acuh.
Yesus juga mengingatkan bahwa ukuran yang kita pakai akan dikenakan kembali kepada kita. Artinya, cara kita mendengarkan firman, cara kita menanggapi kasih, dan cara kita memperlakukan sesama akan membentuk hidup kita sendiri. Semakin kita membuka hati, semakin terang itu bertambah. Sebaliknya, jika kita menutup diri, bahkan terang kecil yang kita miliki bisa meredup.
Hari ini, kita diajak meneladani Daud yang rendah hati dan Yesus yang mengundang kita menjadi terang. Iman bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa sungguh kita membiarkan firman Tuhan membentuk cara hidup kita. Ketika kita hidup dalam terang itu, nama Tuhanlah yang dimuliakan, dan hidup kita pun menemukan maknanya. Amin.
Doa Penutup
Tuhan yang setia, kami bersyukur atas terang firman-Mu dalam hidup kami. Ajarlah kami rendah hati seperti Daud dan berani hidup sebagai terang di dunia. Semoga iman kami nyata dalam sikap dan tindakan, sehingga hidup kami memuliakan nama-Mu setiap hari. Amin.
