Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Jumat 5 September 2025.
Kalender Liturgi hari Jumat 5 September 2025 merupakan Perayaan Teresa dr Kalkuta, Warna Liturgi Hijau
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Jumat 5 September 2025:
Bacaan Pertama: Kol. 1:15-20
Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 100:2,3,4,5
Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Bacaan Injil: Luk. 5:33-39
Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”
Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?
Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.
Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.
Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Jumat 5 September 2025
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Bacaan pertama hari ini dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose mengajak kita untuk melihat Kristus sebagai pusat dari segala sesuatu. Paulus menegaskan bahwa Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala ciptaan, dan oleh Dialah segala sesuatu dijadikan. Artinya, Kristus bukan hanya bagian dari ciptaan, tetapi Dialah asal, tujuan, dan pemersatu dari semua yang ada. Bahkan lebih dalam lagi, Paulus berkata bahwa oleh salib Kristus, seluruh ciptaan diperdamaikan dengan Allah. Jadi ketika kita memandang salib, kita tidak hanya melihat penderitaan, melainkan juga kasih yang mempersatukan, kasih yang menyembuhkan, kasih yang memulihkan relasi kita dengan Allah dan dengan sesama.
Lalu dalam Injil, kita mendengar percakapan Yesus dengan orang-orang Farisi yang mempertanyakan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa seperti murid Yohanes dan murid orang Farisi. Jawaban Yesus mengingatkan kita bahwa kehadiran-Nya adalah sesuatu yang baru, dan karena itu membutuhkan cara pandang yang baru juga. Ia berbicara tentang kain baru yang tidak bisa dipasang pada baju yang lama, dan tentang anggur baru yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kantong kulit yang tua. Gambaran ini sederhana tetapi sangat dalam maknanya: kehidupan baru yang dibawa oleh Yesus tidak bisa dipaksakan masuk ke dalam kebiasaan lama yang kaku. Dibutuhkan hati yang siap diperbarui, pikiran yang terbuka, dan kesediaan untuk berubah.
Kalau kita renungkan, sering kali kita ini seperti kantong kulit yang tua—terbiasa dengan cara lama, pola pikir lama, bahkan kadang iman kita pun hanya sebatas rutinitas. Kita bisa berdoa, bisa ikut Misa, bisa melakukan devosi, tetapi hati kita tidak selalu terbuka untuk pembaruan yang Tuhan tawarkan. Kita mudah jatuh ke dalam kebiasaan yang membuat iman terasa statis, seakan-akan Tuhan hanya hadir di altar, tapi tidak masuk ke dalam keseharian kita. Padahal Yesus ingin menghadirkan anggur baru dalam hidup kita—sukacita, semangat, kasih, dan pengharapan yang segar.
Saudara-saudari, dunia kita hari ini penuh dengan tantangan: teknologi yang berubah begitu cepat, arus informasi yang kadang membingungkan, relasi manusia yang makin individualistis. Dalam situasi seperti ini, Yesus mengajak kita menjadi “kantong kulit yang baru”, supaya anggur kasih-Nya bisa tinggal dalam hidup kita. Itu berarti kita perlu hati yang lebih lentur, lebih terbuka, lebih mau belajar, lebih siap untuk berubah. Tidak mudah memang, karena manusia cenderung nyaman dengan apa yang sudah biasa. Tetapi iman kepada Kristus menuntut keberanian untuk melepaskan cara lama yang sudah tidak menghidupkan, dan menerima cara baru yang membawa kita semakin dekat dengan Allah dan sesama.
Maka, marilah kita belajar dari bacaan hari ini: Kristus adalah pusat hidup kita, Dialah yang mempersatukan segalanya dengan kasih. Jika kita mau sungguh menerima-Nya, biarlah hati kita diperbarui, agar kita tidak menjadi kaku seperti kantong tua yang mudah robek, melainkan menjadi pribadi yang siap menampung anggur baru, hidup baru dari Kristus. Dengan demikian, iman kita bukan hanya rutinitas, tetapi sungguh-sungguh menjadi jalan yang membawa sukacita, kedamaian, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau sumber hidup baru. Jadikan hatiku kantong yang baru, yang terbuka bagi kasih-Mu. Segarkan imanku setiap hari agar tidak kaku dalam rutinitas, melainkan penuh sukacita, damai, dan kasih. Bimbing aku hidup seturut kehendak-Mu. Amin.