Belakangan ini, dunia maya lagi rame banget sama dua kata yang kelihatannya simpel, tapi efeknya nggak sesimpel itu: “That Simple.”
Mulai dari TikTok, Instagram, sampai kolom komentar mana pun, kalimat ini muncul terus kayak mantra sakti. Tapi lucunya, bukan buat jelasin sesuatu—malah jadi alat nyindir level dewa.
Buat kamu yang masih mikir, “Lah, emang kenapa sih cuma ‘that simple’ doang bisa viral?”
Viralnya kata that simple’ ini bermula dari video klarifikasi aktor Roby Tremonti yang tiba-tiba viral dan jadi bahan bahasan netizen. Dalam potongan video itu, Roby lagi jelasin pandangannya soal polemik buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Niatnya sih mau meluruskan isu dan nunjukin kalau pemikirannya logis dan masuk akal. Tapi di situlah plot twist-nya terjadi.
Roby menjelaskan dengan analogi matematika, sambil berkali-kali nekanin kalimat:
“That simple.”
“Masuk akal.”
“1+1=2.”
Bukannya bikin netizen manggut-manggut, justru banyak yang mikir,
👉 “Ini nyambung nggak sih sama masalahnya?”
Dari situlah, dua kata sakti itu berubah fungsi. Dari yang awalnya serius, malah jadi bahan ledekan nasional 😭
🤯 Kenapa Netizen Auto Ngetawain?
Ada dua faktor besar kenapa “that simple” bisa langsung viral:
1️⃣ Momennya Lagi Panas
Isu soal buku Broken Strings lagi disorot banget. Banyak spekulasi liar, asumsi netizen, dan drama masa lalu yang bikin publik kepo maksimal.
Pas Roby muncul buat klarifikasi, semua mata langsung tertuju ke dia.
2️⃣ Cara Ngomongnya Bikin Salah Fokus
Alih-alih fokus ke substansi masalah, netizen malah ke-distract sama cara penyampaian yang dianggap:
- terlalu disederhanakan
- analoginya nggak relate
- tapi dibungkus seolah-olah “ini paling logis”
Akhirnya, “that simple” dianggap sebagai simbol overconfidence + kurang nyambung.
📚 Sebenernya, “That Simple” Itu Artinya Apa Sih?
Kalau kita balik ke arti aslinya, nggak ada yang salah sama frasa ini.
Dalam Bahasa Inggris:
- “It’s that simple” artinya 👉 “Sesederhana itu”
- Dipakai buat negesin kalau suatu hal jelas, lurus, dan nggak ribet
Biasanya dipakai di akhir penjelasan buat nutup argumen.
Kayak bilang: “Udah, gitu aja. Nggak perlu diperdebatkan lagi.”
Jadi secara teori, Roby nggak salah pakai kalimat ini.
Masalahnya… konteks dan penerimaannya beda 😬
😂 Dari Kalimat Biasa Jadi Senjata Sindiran
Di tangan netizen + kreativitas tanpa batas, “that simple” naik level jadi kode rahasia sindiran.
Sekarang, kalimat ini dipakai buat:
- nyentil orang yang sok paling logis
- ngejawab argumen yang ribet tapi nggak nyampe
- nutup debat yang udah nggak jelas arahnya
Contohnya:
“Bro, penjelasan lu muter-muter.”
Jawaban netizen: “That simple.”
Pedas, singkat, dan langsung kena 😭🔥
🎶 Makin Viral Gara-Gara Remix & Sindiran Halus
Biar makin chaos, muncul juga:
- Audio remix TikTok dari potongan suara Roby
- Musik jedag-jedug + kalimat “yang waras” dan “that simple”
- Dipakai ribuan kreator buat konten satire
Drama makin naik pas Tyler Bigenho, suami Aurelie Moeremans, ikut upload video dengan caption:
“It’s that simple.”
Tanpa banyak kata, tapi efeknya…
💥 NETIZEN: “WADUH, INI SINDIRAN LEVEL HIGH CLASS” 💥
Biar nggak salah paham, kita simpulin arti kata that simple :
✔ Versi Roby Tremonti:
“That simple” = cara buat negesin kalau klarifikasinya logis dan pasti, kayak hitungan matematika.
✔ Versi Netizen Sekarang:
“That simple” = kalimat sindiran buat orang yang:
- terlalu nyederhanakan masalah rumit
- ngerasa paling masuk akal
- tapi penjelasannya malah bikin mikir, “Hah?”
Fenomena “that simple” ngebuktiin satu hal penting:
👉 Di era medsos, bukan cuma isi omongan yang dinilai, tapi juga cara ngomongnya.
Satu kalimat bisa berubah makna total tergantung:
- konteks
- momen
- dan reaksi netizen
Hari ini kalimat biasa, besok bisa jadi senjata roasting massal.
Dan ya…
That simple?
Eh, ternyata nggak juga 😏🔥
