Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Rabu 22 April 2026.
Kalender Liturgi hari Rabu 22 April 2026 adalah Hari Biasa Pekan III Paskah, dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Rabu 22 April 2026:
Bacaan Pertama: Kis. 8:1b-8
Saulus juga setuju bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.
Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu. Ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar, lalu menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri sambil memberitakan Injil.
Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.
Ketika orang banyak mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh serta orang timpang yang disembuhkan.
Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a
Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi. Mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian.
Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu.” Sela
Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia. Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri. Sela
Bacaan Injil: Yohanes 6:35-40
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristrus.
Renungan Harian Katolik Rabu 22 April 2026
Saudara-saudari terkasih,
Bacaan hari ini membawa kita pada dua kenyataan hidup yang sangat kontras: penderitaan dan harapan. Dalam Bacaan Pertama, kita melihat Gereja perdana mengalami penganiayaan. Ada ketakutan, kehilangan, bahkan kematian seperti yang dialami Stefanus. Saulus menjadi simbol dari kebencian yang membabi buta. Secara manusiawi, ini situasi yang membuat orang ingin mundur, diam, atau bahkan menyerah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang tercerai-berai tidak berhenti percaya. Mereka tidak menyimpan iman hanya untuk diri sendiri. Dalam ketakutan, mereka tetap mewartakan Injil. Artinya, iman mereka bukan sekadar kenyamanan, tetapi kekuatan yang hidup. Dan hasilnya nyata: kehadiran Filipus membawa kesembuhan, pembebasan, dan sukacita besar di Samaria.
Di sinilah kita mulai melihat makna yang sangat relevan bagi hidup kita sekarang. Tidak semua penderitaan menghancurkan. Ada penderitaan yang justru memurnikan dan menggerakkan. Kadang hidup kita juga seperti “tersebar”: rencana gagal, relasi retak, pekerjaan tidak sesuai harapan. Tetapi justru di situlah Tuhan membuka jalan baru, jika kita tetap berjalan bersama-Nya.
Lalu Injil hari ini memberi inti dari semuanya. Yesus berkata, “Akulah roti hidup.” Ini bukan sekadar kata indah. Ini adalah jawaban atas kelaparan terdalam manusia. Kita sering merasa lapar—bukan hanya lapar fisik, tetapi lapar akan makna, penerimaan, kepastian, dan kasih. Kita mencari di banyak tempat: pencapaian, relasi, hiburan, bahkan pengakuan orang lain. Namun sering kali tetap terasa kosong.
Yesus mengingatkan bahwa hanya Dia yang benar-benar mengenyangkan hati manusia. “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.” Datang kepada Yesus bukan hanya soal doa formal, tetapi soal relasi yang nyata—percaya, bersandar, dan membuka diri.
Yang sangat menyentuh adalah kalimat ini: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Ini jawaban bagi banyak orang yang merasa tidak layak, gagal, atau jauh dari Tuhan. Dunia mungkin mudah menolak, tetapi Tuhan tidak. Ia menerima, memulihkan, dan menjaga agar tidak ada yang hilang.
Dalam hidup sehari-hari, ini menjadi undangan yang sangat konkret. Ketika kita merasa lelah, kecewa, atau kehilangan arah, kita diajak kembali kepada sumber hidup itu. Bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan kejujuran. Dan dari situ, seperti jemaat perdana, kita pun bisa menjadi pembawa sukacita bagi orang lain—bukan karena hidup kita tanpa masalah, tetapi karena kita menemukan siapa yang kita andalkan.
Iman bukan berarti hidup tanpa penderitaan, tetapi hidup dengan arah, dengan harapan, dan dengan kepastian bahwa kita tidak berjalan sendirian. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah kami mencari Engkau sebagai roti hidup dalam keseharian kami. Kuatkan iman kami saat lemah, hibur hati kami saat terluka, dan tuntun langkah kami agar setia pada kehendak-Mu. Jadikan kami pembawa sukacita bagi sesama, di tengah dunia yang sering kehilangan harapan. Amin Berkatilah keluarga kami dan pekerjaan kami. Amin.
